BETANEWS.ID, SEMARANG – 1 Juli lalu Ngesti Pandowo tepat berusia 86 tahun. Kelompok kesenian wayang orang di Kota Semarang ini telah meniti perjalanan panjang sejak berdiri pada 1937. Terakhir mereka mementaskan lakon berjudul “Bagong Ndalang” di Gedung Ki Narto Sabdo (lama) kompleks Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) pada Sabtu (1/7/2023) malam lalu.
Ngesti Pandowo sejak 2001 memang rutin berpentas setiap Sabtu di Gedung Ki Narto Sabdo (lama). Namun rencananya Ngesti Pandowo akan berpindah tempat pentas ke gedung baru yang didirikan di lahan bekas Gedung Serba Guna TBRS. Gedung baru tersebut juga diberi nama Ki Narto Sabdo, nama tokoh seniman dan dalang wayang kulit yang legendaris.
Sementara perjalanan Ngesti Pandowo sebagai kelompok kesenian wayang orang sendiri sangat menarik sebagai catatan sejarah kesenian nasional, khususnya Kota Semarang sebagai home base-nya terkini.
Baca juga: Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah dan Dekase Pentaskan “Yang Silam”
Ngesti Pandowo didirikan di Madiun Jawa Timur oleh lima tokoh, yakni Ki Sastro Sabdo, Ki Sastro Sudirdjo, Ki Narto Sabdo, Ki Darso Sabdo, dan Ki Kusni. Sebagaimana dituturkan Ketua WO Ngesti Pandowo saat ini, Djoko Muljono, konsep pertunjukan awalnya adalah wayang orang tobong, yang berarti tidak permanen atau berpindah-pindah tempat.
Aktivitas Ngesti Pandowo sempat terhenti di 1945 karena situasi perang kemerdekaan. Hingga di 1950 Ngesti Pandowo kembali aktif dan kemudian pindah ke Jawa Tengah, dengan kota tujuan pertama Semarang. Djoko berkisah, Ngesti Pandowo kali pertama berpentas di Kota Semarang saat ada pasar malam di Stadion Diponegoro.
Di periode 1950-1954, Ngesti Pandowo berpentas keliling se-Jawa Tengah. Hingga di tahun terakhir tersebut akhirnya Ngesti Pandowo mendapat fasilitas oleh Pemerintah Kota Semarang untuk berpentas reguler di gedung Gedung Rakyat Indonesia Semarang (GRIS) Jalan Pemuda. Namun dengan gedung bersejarah tersebut berpindah tangan ke pihak swasta, Ngesti Pandowo pun ‘tergusur’ dan pindah ke Gedung Serba Guna TBRS (Sekarang Gedung Ki Narto Sabdo baru).
Setelah melewati masa 1994-1996 di TBRS, Ngesti Pandowo pindah ke Istana Majapahit, Jalan Majapahit. Hingga pada 2001, Ngesti Pandowo pulang kembali ke TBRS menempati Gedung Ki Narto Sabdo (lama) hingga sekarang.
Baca juga: Lewat Mak Yong, Teater Pomponk Ceritakan Sisi Lain Kehidupan di Batam
“Banyak suka dukanya perjalanan Ngesti Pandowo. Tahun ’62 itu sering Ngesti Pandowo diundang Presiden Sukarno untuk main di istana. Pada 17 Agustus 1962 Ngesti Pandowo dapat penghargaan dari presiden, namanya Piagam Wijayakusuma,” tutur Djoko.
Menyikapi era modern saat ini, Ngesti Pandowo pun menerapkan beberapa strategi untuk menjaga kelestarian wayang orang. Di antaranya adalah menyiapkan generasi penerus aktivis Ngesti Pandowo melalui kerja sama dengan beberapa sekolahan dan perguruan tinggi. Sementara dalam hal pementasan, Ngesti Pandowo bersiasat memadatkan durasi pertunjukan dan memilih cerita lakon yang kontekstual dengan masa kini.
Editor: Ahmad Muhlisin

