31 C
Kudus
Senin, Januari 26, 2026

Putar Otak Mencukupi Kebutuhan Keluarga, Bagas Kini Sukses Jualan Tahu Gimbal

BETANEWS.ID, SEMARANG – Sore itu Bagas dan Yuli tampak bahu membahu membuat menu tahu gimbal pesanan pembeli. Kuliner khas Semarang ini memang jadi salah satu andalan warung di sudut jalan masuk perumahan cluster Dinar Indah RW 26, Meteseh Semarang itu.

Sekilas, tahu gimbal ini lebih mirip dengan tahu campur. Keduanya berisi potongan tahu yang digoreng setengah matang, rajangan kol atau kubis mentah, tauge, dan sayuran lainnya. Bedanya, isian tahu campur terkadang ada yang diberi potongan daging. Sementara pada tahu gimbal diberi gimbal atau udang yang digoreng dengan tepung, dan telur ayam goreng atau sering disebut telur ceplok atau telur mata sapi.

Salah satu pembeli sedang menyantap tahu gimbal di warung milik Bagas. Foto: Tomy Yunius

Tahu gimbal Bagas dan Yuli memiliki ciri khas, yaitu telur yang digoreng dengan cetakan bulat sehingga memberi kesan menarik. Selain itu, ciri khas lainnya adalah pada gorengan gimbal yang tidak berupa rempeyek seperti pada umumnya, melainkan gorengan gimbal yang ukurannya cukup besar disajikan dalam bentuk satuan berselimut tepung. Sedangkan rempeyek atau lembaran tepung gorengnya disajikan tersendiri yang sekaligus bisa sebagai pengganti kerupuk. Pembeli bisa juga meminta tambahan rempeyeknya.

-Advertisement-

Baca juga: Mencicipi Wedangan dan Es Puter Pak Kirman yang Legendaris di Semarang

“Tahu Gimbal 26 seporsinya dijual Rp17.000 untuk menu komplet, dan Rp27.000 untuk menu jumbo. Sementara pembeli bisa menikmati segarnya es tebu dengan harga Rp4.000,” bebernya saat ditemui, Senin (30/7/2023).

Di balik ramainya warung, Bagas menceritakan bahwa usaha tersebut merupakan caranya bertahan hidup dan hantaman covid-19. Dalam ceritanya, Bagas merupakan kontraktor yang terdampak pandemi.

Demi mencukupi kebutuhan keluarganya, pasutri dua anak itu pun putar otak untuk berwirausaha dengan berdagang. Berbekal kemampuan sang istri yang memiliki bakat memasak, mereka pun memilih ide berjualan tahu gimbal.

Baca juga: Warung Serba Rp6 Ribu di Semarang Ini Jadi Penyelamat Warga yang Tak Punya Banyak Uang

“Ya alhamdulillah, istri bisa masak. Terus kami bagikan ke tetangga. Responnya bagus dan mendukung, kami mantab untuk jualan,” kenang Bagas.

Tetapi ujian baru dimulai ketika pandemi datang yang diikuti aturan pembatasan aktivitas luar rumah oleh perintah. Beruntungnya Bagas dan Yuli hanya berjualan di siang hari, sehingga masih bisa beraktivitas jualan di warung. Mereka pun mempromosikan dagangannya di komunitas car free day di wilayah dekat rumahnya.

“Dari situ, dagangan tetap laku meski dengan sistem beli bawa pulang atau take away. Ditambah lagi kami juga memanfaatkan sistem penjualan online,” pungkasnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER