BETANEWS.ID, KUDUS – Dengan menyulap limbah kayu menjadi arang, mahasiswa IAIN Kudus, Mohammad Calvin Alvianto mendapat untung besar. Arang buatannya pun laris manis sekitaran wilayah Kabupaten Kudus
Pemuda asal Desa Honggosoco RT 4 RW 4, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus itu berkisah jika usahanya dirintis sejak Oktober 2021 silam. Berawal saat melihat banyaknya limbah kayu yang menumpuk di halaman rumah, ia pun berpikir agar limbah tersebut bisa bermanfaat dan dijadikan cuan.
Baca Juga: Keadaan yang Serba Terbatas Tak Ciutkan Tekad Solehah Cari Rezeki Halal untuk Keluarganya
“Jadi ayah itu kan produksi parut mentah yang disetorkan ke perajin di Jepara. Nah limbah yang terbuang dalam produksi parut itu menumpuk banyak di depan rumah. Sehingga muncul ide produksi arang ini,” bebernya.
Ide tersebut, kata Calvin, datang dari ibunya, teramat sayang jika limbah kayu yang ada dibuang begitu saja, atau dijadikan kayu bakar.
“Ibu yang menyarankan untuk dibuat arang. Karena produksi parut yang berbahan dasar kayu hanya 60 persen saja yang bisa digunakan. Sedangkan 40 persennya lagi menjadi limbah. Dengan limbah yang begitu banyak, sayang kalau hanya dibuat masak saja,” tuturnya.
Setelah ide tersebut diaplikasikan dengan memproduksi arang sendiri. Di awal usahanya, karena tak tahu harga pasaran arang, Calvin menjual arang dengan harga yang kelewat murah.
“Dulu pertama pemasarannya yang penting laku mas. Karena saya juga belum tahu harga pasar arang, satu karung gula berukuran 50 kilogram saya jual dengan harga Rp 25 ribu,” jelasnya.
Ia mengaku, setelah produk di-posting di market place Facebook, produknya langsung diminati oleh pabrik di daerah Pati yang merupakan pelanggan pertama. Pembeli pertama mengambil arang dengan jumlah banyak, yakni 10-20 karung per dua pekan sekali.
“Pembeli pertama berlangganan hanya 3 bulan saja. Saya memutuskan berhenti bekerjasama karena, karena saya tidak sanggup mencukupi kebutuhan mereka, dengan jumlah yang sama namun diambil dalam waktu satu pekan. Sebab, produksi arang ini membutuhkan waktu lama,” tuturnya.
Selain melakukan pemasaran secara online, Calvin juga melakukan pemasaran door to door ke beberapa penjual sate, mie tek, dan sebagainya. Bahkan ia juga sempat ditawari mengirim arang ke banyak daerah seperti Semarang, Jepara, dan Pati, namun ditolak.
“Kalau dihitung lebih banyak pesanan yang saya tolak dari pada yang saya terima. Karena produksi arang di sini, dalam dua hari hanya bisa memproduksi sekitar 3 karung saja. Sedangkan permintaan datang itu sudah partai besar. Sehingga saya belum siap untuk mengirim,” ucapnya.
Baca Juga: Pernah Hidup Susah Jadi Inspirasi Nawa Buka Warung yang Harganya Sangat Merakyat
Ia mengklaim, arang buatannya dijual dibawah harga pasaran. Lantaran, arang itu diproduksi sendiri, sehingga harga menjadi lebih murah.
“Selain itu ukuran arang juga lebih besar, lebih kering. Sehingga untuk ketahanan arang ini bisa sampai lama,” imbuhnya.
Editor: Haikal Rosyada

