Desa Mayong Lor yang berada di Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara dikenal sebagai daerah sentra industri seni kerajinan keramik tradisional atau seni gerabah. Secara historis gerabah dibuat dari tanah liat yang umumnya berfungsi sebagai wadah atau perkakas rumah tangga. Produk yang dihasilkan meliputi guci, celengan anak, peralatan dapur, kendi, permainan anak dan masih banyak lagi.
Pada umumnya, proses pembuatan gerabah memiliki beberapa tahap. Mulai dari menyiapkan tanah liat, kemdian pembentukan, dilanjut penjemuran dan pembakaran.
Satu diantara grabah yang unik di sana adalah kendi maling. Disebut kendi maling karena bentuknya yang berbeda dari kendi pada umumnya. Kendi ini memiliki tiga cucuk dan lubang pengisian air yang ada di bagian bawah kendi. Selain itu perbedaan terletak pada proses pembuatan dan waktu yang digunakan.
Satu-satunya perajin kendi maling di sana yakni Ruminah (45). Sejak kecil dirinya sudah belajar membuat kendi dari ibu dan neneknya. Dia juga mengaku sudah menggeluti pekerjaan seni tanah liyat itu sejak 35 tahun lalu.
“Proses membuatnya tidak cukup satu hari, karena ada beberapa proses.
Untuk membuat kendi maling harus menyiapkan tiga bagian terlebih dahulu. Ada badan kendi, baru membuat leher dan tiga cucuk,” terang warga Dukuh Krajan, RT 01, RW 05, Mayong Lor, Kecamatan Mayong, Jepara itu.
Menurut Ruminah, untuk membuat satu kendi maling membutuhkan waktu sekitar tiga hari. Itu pun belum termasuk proses menghaluskan dan pembakaran.




