Kebudayaan dan tradisi hadir dalam setiap babak kehidupan manusia. Salah satunya pada kelahiran bayi hingga proses pertumbuhannya. Seperti ketika pasangan suami istri pertama mendengar suara tangis buah hatinya yang baru lahir. Keluarga di rumah tanpa diminta langsung bersiap membantu pasutri tersebut untuk membuat syukuran.

Tradisi itu di Jawa Tengah disebut brokohan, yang dilakukan dengan cara membagi makanan, atau bancaan, ke tetangga sekitar. Umumnya makanan ini sudah ada pakem atau kelazimannya. Misalnya nasi gudangan dengan lauk ikan asin, telur, atau lainnya. Bisa jadi budaya dan tradisi itu adalah perwujudan doa atau harapan untuk sang anak.
Selanjutnya budaya dan tradisi masih mengiringi proses bertumbuhnya bayi menjadi manusia dewasa. Salah satunya adalah tedhak siten.
Tedhak adalah kata kerja dalam bahasa Jawa yang berarti menginjak. Sementara siten, dari kata benda bahasa Jawa adalah siti, berarti tanah. Jadi tedhak siten adalah menginjak tanah. Dalam kaitan masa bayi bertumbuh adalah ketika bayi mulai belajar merayap, merangkak, atau merambat, hingga bisa berdiri dan berjalan sempurna. Lazimnya proses ini dimulai pada bayi usia delapan bulan penanggalan nasional. Jika dalam penanggalan Jawa maka tujuh lapan. Sementara satu lapan sendiri sama dengan 35 hari.
Pada masa belajar berdiri dan berjalan inilah bayi mulai bersentuhan langsung dengan tanah. Tentunya tanah ini adalah istilah untuk mengidentifikasikan permukaan bumi. Bisa jadi di rumah modern tidak terdapat lahan berpermukaan tanah, melainkan lantai plester, ubin, atau keramik. Maka dalam prosesi tedhak siten, tetap disediakan wadah berisi tanah untuk diinjak bayi.
Sebagaimana budaya dan tradisi dalam konteks lainnya, tedhak siten juga berbeda-beda dalam pengejawantahannya, baik dari segi tata cara maupun materinya.
Widyo Leksono, atau dikenal Babahe, seniman dan budayawan Semarang kelahiran Pati, menceritakan bahwa tedhak siten tidak diketahui pasti asal muasalnya. Yang jelas, tradisi tedhak siten saat ini sangat jarang dilakukan masyarakat modern. Hanya beberapa kalangan saja yang masih melakukan tradisi ini.
Modifikasi cara lama tedhak siten dengan gaya kekinian
Namun Adhitia Armitrianto, Ketua Dewan Kesenian Semarang (Dekase), yang berkecimpung di kesenian dan sastra mencoba memugar kembali tradisi tedhak siten. Adhit dan istrinya, Irnida Butarbutar, yang tengah berbunga hati memiliki anak pertama yang memasuki usia belajar berjalan, memutuskan untuk mempraktikkan tedhak siten. Uniknya, Adhit memoles tradisi tedhak siten dengan nuansa pop, kekinian, dan dengan gaya pesisiran. Ini sebagaimana geografis kota tempat lahir dan menjalani kehidupannya saat ini.




