Buku dan pensil tetap menjadi pilihan Adhit untuk disertakan sebagi simbol. Sementara simbol uang dan perhiasan, Adhit memilih meniadakannya. Lalu untuk mainan tradisional, Adhit menggantinya dengan mainan modern. Seperti mainan alat kedokteran berbahan plastik, atau mainan handphone berbahan plastik pula. Bagi Adhit, mainan-mainan ini lebih sesuai dengan dunia anak masa kini.
Benda-benda dalam tenda pilar ala Adhit ini disebar dengan tujuan agar dipilih sang anak. Benda yang dipilih pertama dipercayai sebagai gambaran masa depan anak.
Peranti lain dalam tedhak siten adalah jadah, atau di Semarang sering disebut gemblong. Jadah adalah makanan yang terbuat dari beras ketan yang ditumbuk hingga berbentuk gumpalan yang kenyal. Jadah dalam tedhak siten dibuat tujuh bagian dengan tujuh warna berbeda, yaitu hitam, ungu, biru, hijau, merah, kuning, dan putih. Panganan jadah ini disimbolkan sebagai kehidupan. Sedangkan warna-warna jadah merupakan simbol ragam dari kehidupan.
Namun di ngambah lemah, Adhit memilih mengganti jadah dengan panganan yang terkenal di Kota Semarang, wingko babat. Meskipun wingko babat bukanlah asli buatan Semarang, melainkan dari Kecamatan Babat, Lamongan, Jawa Timur. Namun karena sukses dipasarkan di Semarang, juga menjadi oleh-oleh khas Semarang, jadilah wingko babat lebih terkenal di Semarang. Karena sudah menjadi simbol Semarang, maka Adhit menggunakan wingko babat sebagai ganti jadah. Sementara untuk memberi simbolisasi warna, Adhit memberi wingko babat versi ukuran jumbonya dengan tutup kertas warna-warni.
Tebu, menjadi peranti penting lainnya dalam tedhak siten. Ngambah lemah Adhit tetap menggunakannya dalam urutan prosesi. Tebu ini dipotong-potong dan dirangkai menyerupai tangga berukuran mini. Dalam tradisi Jawa, tebu sering diakronimkan dari kepanjangan antebing kalbu, yang berati kemantaban hati.

Prosesi ngambah lemah
Sebagaimana nama anak mereka, Air Kinanti Agniterra, Adhit dan Irni berharap anaknya kelak akan berperilaku baik dan berhati membumi. Tuntunan berperilaku tersebut tentunya tidak lepas dari tata krama menghormati orang tua. Maka Adhit dan Irni mengawali ngambah lemah dengan melakukan sungkem kepada orang tua mereka, tak lain adalah kakek dan nenek Air. Sungkeman yang dalam budaya Jawa berarti melakukan sembah hormat untuk meminta doa restu, juga ditujukan pada semua keluarga yang lebih tua.
Setelah sungkeman, pasangan berdarah Jawa dan Batak ini membimbing anak mereka, Air, menapaki tujuh wingko babat dengan tutup kertas tujuh warna berbeda. Adhit dan Irni berharap, Air kelak dapat melalui kehidupan dengan beragam situasi dan tantangannya dengan baik.
Prosesi membumikan kaki Air terakhir dilakukan dengan menginjak pasir bercampur tanah. Pasir dan tanah ini disediakan dalam tampah, wadah berbentuk bundar ceper dari anyaman kulit bambu. Proses menginjak dan mengais pasir dan tanah itu, menjadi simbol harapan agar Air kelak cakap mencari rezeki di dunia.




