BETANEWS.ID, KUDUS – Tradisi Dandangan untuk menyambut datangnya Bulan Suci Ramadan telah mulai digelar, Sabtu (11/3/2023). Beragam jenis makanan, minuman, hingga pakaian dijajakan di stan-stan yang disediakan. Namun, ada satu yang tak pernah ketinggalan, yakni mainan kapal otok-otok, mainan traidisional yang selalu ada setiap tradisi Dandangan digelar.
Mainan kapal otok-otok adalah mainan tradisional berbentuk kapal, dibuat dari material aluminium. Mainan yang dicat warna-warni ini bisa mengapung dan melaju di atas air, dengan dorongan gas dari minyak goreng yang dibakar. Mainan ini banyak disukai anak-anak, dan laku keras saat dijajakan di tradisi Dandangan.
Abu Nawas (40), adalah satu di antara banyak penjual kapal otok-otok di tradisi Dandangan. Menurut penjual kapal otok-otok dari Cirebon, Jawa Barat ini, dirinya selalu berjualan kapal otok-otok setiap kali tradisi Dandangan digelar. Bahkan, dirinya telah berjualan, sebelum tradisi Dandangan resmi dimulai.
Baca juga: Penjual Mainan Gerabah Asal Jepara, Pemburu Event-Event Besar di Berbagai Daerah
“Kalau berjualan di sini sudah 3 pekan. Jadi siangnya saya jual di tepi jalan, kalau malam jual di pasar malam,” ungkap Abu kepada Betanews.id, belum lama ini.
Meski kapal otok-otok adalah mainan tradisional, menurutnya hingga saat ini masih banyak peminatnya. Tapi untuk mainan ini bisa dijumapi saat ada even-even tertentu dan pada saat ada pasar malam saja, termasuk di even Dandangan.
Ia menjelaskan, ada dua ukuran berbeda pada kapal otok yang dijualnya di sana yaitu antara ukuran kecil dan besar. Tentu harga kedua jenis ini sangat berbeda. Menurut Abu meski berbeda ukuran, namun untuk cara pengaplikasian mainan tersebut sama saja.
“Sama mas hanya beda ukuran saja. Untuk harganya ada yang Rp 15 ribu untuk kapal otok-otok kecil, Rp 20 ribu untuk kapal otok besar, serta kapal otok besar ada layarnya Rp 25 ribu,” rinci pria yang beralamat Cirebon, Jawa Barat.
Baca juga: Usai Buka Tradisi Dandangan, Hartopo dan Masan Pilih Makan Mi Ayam Sambil Lesehan di Trotoar
Abu mengatakan, dirinya telah berjualan mainan kapal otok-otok sejak umur 17 tahun. Saat ini ia lebih banyak berjualan di wilayah Jawa Tengah, karena di daerahnya sudah banyak penjual mainan yang sama. Peminat mainan ini di Jawa Tengah cukup tinggi, jika dibanding dengan daerah lain.
“Kalau sedang sepi bisa jual 5-10 kapal. Sedangkan kalau ramai bisa 10 sampai 15 kapal,” katanya.
Editor: Suwoko

