BETANEWS.ID, KUDUS – Lalu lalang kendaraan terlihat melintasi Jembatan Apung Sambung Roso yang berada di Desa Sambung Gang 7, Kecamatan Undaan. Nampak beberapa pesepeda maupun pejalan jalan kaki juga melintas di jembatan tersebut.
Jembatan Apung Sambung Roso yang menghubungkan dua kabupaten, antara Kabupaten Kudus dan Kabupaten Demak itu sudah diresmikan sejak 5 Februari 2023. Ditargetkan, setiap harinya jembatan tersebut dilalui hingga 400 kendaraan bermotor.
Namun kata Sutarno, Pengelola Jembatan Apung Sambungan Roso, pengendara yang melintas jembatan itu melebihi target awal.

Baca juga: Jembatan Apung Sambung-Sambung Roso Telan Anggaran Rp 350 Juta
Menurut Tarno, setelah peresmian jembatan, banyak warga yang lebih memilih melewati jembatan itu lantaran dinilai lebih menghemat waktu. Dari target 400 kendaraan setiap harinya, kini ada 600 hingga 700 kendaraan yang melewati jembatan tersebut.
“Ya tentu saja banyak warga yang senang dengan adanya jembatan ini. Karena sebelumnya kan hanya perahu eret untuk menyeberang sungai yang menghubungkan dua kabupaten ini,” beber Tarno kepada Betanews.id, Kamis (9/3/2023).
Ia mengatakan, sebelum adanya jembatan apung, dengan perahu eret pihaknya hanya bisa menyeberangkan antara 200 sampai 250 kendaraan saja setiap hari. Dengan teknologi yang lebih memudahkan warga menyeberang sungai seperti jembatan yang ada seperti sekarang, banyak pengendara yang memanfaatkannya.
“Biasanya kalau ramai itu saat jam kerja. Kalau pagi antara jam 5 sampai jam 8. Sedangkan kalau sore jam 4 sampai jam 6,” ungkapnya.
Ia menyebut, panjang Jembatan Apung Sambungan Roso itu memiliki panjang 85 sampai 90 meter, dengan lebar 2,5 meter. Sedangkan bahan baku yang digunakan untuk struktur jembatan menggunakan kayu mahoni, yang menurutnya kuat hingga 3 tahun.
“Untuk tarifnya setiap sekali jalan Rp 2 ribu per motor. Dan jembatan ini beroperasi 24 jam nonstop,” kata Tarno, warga Desa Sambung, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus tersebut.
Baca juga: Satu Lagi Jembatan Apung Penghubung Kudus-Demak Hampir Bisa Digunakan
Ia menambahkan, kekuatan jembatan apung tersebut bisa menampung 10 hingga 15 kendaraan secara bersamaan. Untuk diketahui, pembangunan jembatan itu menghabiskan anggaran kurang lebih Rp 350 juta yang bekerjasama dengan kontraktor.
“Jembatan ini pada saat banjir, menjadi jalan alternatif untuk menghindari jalur ruas jalan Kudus- Purwodadi yang ada di Desa Tanjungkarang. Bahkan jembatan ini mengalami kemacetan saat itu, karena ada bagian akses jalan yang tergenang,” tuturnya.
Editor: Kholistiono

