Selain Cuaca, PLTU Disebut Juga Jadi Faktor yang Pengaruhi Hasil Tangkapan Ikan

BETANEWS.ID, JEPARA – Arus gelombang angin laut menjadi patokan bagi para nelayan dalam menentukan masa panen. Sehingga mereka dapat memetakan bulan apa para nelayan di kawasan tertentu akan memasuki masa panen hasil laut. Tetapi, hal tersebut bukan satu-satunya faktor penentu. Keberadaan PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) juga turut mempengaruhi hasil tangkapan para nelayan.

Seperti dijelaskan Mukhlis (42), Ketua Kelompok Nelayan Kampung Asem, Desa Kedungmalang, RT 03/RW 01, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara, saat ditemui bersama para nelayan lain. Ia menuturkan, bahwa mesin penyaringan dari PLTU turut membawa ikan-ikan terbawa arus hingga sampai ke daerah tertentu.

Beberapa nelayan saat bersantai di pinggiran tempat tambatan perahu. Foto: Umi Nurfaizah.

Baca juga: Akibat Cuaca Ekstrem dan Tingginya Harga Solar, Sudah Dua Bulan Nelayan di Jepara Tak Melaut

-Advertisement-

“Penyaringan itu (PLTU), ada terowongan yang besar sekali itu nyedot ikan ikan. Kalau Oktober sampai Desember panennya itu daerah Mlonggo sampai Rembang. Kalau musim ini, Desember sampai April, yang panen sekitar laut Pantai Kartini sampai Semarang,” jelasnya pada Betanews.id, Sabtu (18/02/2023).

Meskipun sekarang ini sedang musim panennya bagi para nelayan di Kedungmalang, tetapi harga ikan menjadi turun karena tidak adanya peminat. Hasil yang mereka dapatkan menjadi tidak seimbang dengan modal yang harus dikeluarkan untuk sekali melaut. Sehingga banyak para nelayan yang kemudian memilih untuk tidak melaut.

Selain faktor tersebut, naiknya harga solar juga menjadi pengaruh bagi para nelayan. Sekali berangkat, perahu nelayan paling tidak membutuhkan 60 liter solar, dengan harga mencapai 7.000/liter.

“Melaut sehari dapatnya Rp 1 juta, harga BBM Rp 7000an, soalnya beli di pengecer. Hasilnya dikurangi buat modal, awak kapal 5 sampai 6, jadi dapatnya nggak seberapa,” jelasnya.

Para nelayan di kampung tersebut berharap mendapatkan bantuan dari pemerintah agar tidak terus-terusan berhutang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Seperti yang dialami Sumarto (60), yang sudah tidak melaut selama dua bulan.

Baca juga: Kisah Darwati, Sosok Perempuan Nelayan Tangguh dari Tambak Polo Demak

Perahu yang kecil membuat ia tidak berani melaut. Sementara bantuan dari pemerintah tidak selalu sampai kepada Sumarto. Ia mengaku sampai harus mengurus ke pihak kecamatan agar bisa mendapatkan bantuan.

“Saya kadang juga bingung, yang lain dapat bantuan, tapi saya nggak. Ya terpaksa harus berhutang,” ujarnya.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER