Dirintis di Atas Trotoar, Warung Soto Bu Djatmi Selalu Ramai Pembeli Sejak Dulu Hingga Kini

SEPUTARKUDUS.COM, PANJUNAN – Di tepi Jalan KH Wachid Hasyim Kelurahan Panjunan, Kecamatan Kota, Kudus, tampak warung dengan baner bergambar tokoh Punakawan Petruk. Di dalam warung tersebut terlihat ramai para pengunjung yang sedang menikmati soto kerbau dan ayam yang dihidangkan. Tempat tersebut tak lain, warung Soto Bu Djatmi, satu di antara warung soto legendaris di Kudus yang tetap ramai pembeli.

Purwati, penerus Soto Bu Djatmi 2017_4
Purwati, penerus Soto Bu Djatmi. Foto: Rabu Sipan

Menurut Purwati (36), penerus warung Soto Djatmi seklaigus anak pertama Djatmi, menuturkan, warung soto dibuka pada tahun 1982. Sebelum membuka warung, Djatmi remaja ikut bekerja orang lain di warung soto hingga menikah dengan pria yang bernama Maskan.

Baca juga: Welly Rela Datang Jauh dari Tuban Ke Kudus Demi Semangkuk Soto Bu Djatmi untuk Bernostalgia

-Advertisement-

“Pak Maskan itu bapakku, dan sejak orang tuaku menikah pada tahun 1978, dua tahun kemudian  ibuku berinisiatif membuka warung soto sendiri kecil-kecilan di atas trotoar emperan toko di Jalan Wachid Hasyim. Menurut cerita ibuku dulu, setelah menikah almarhumah ibuku ingin punya warung soto sendiri,” kenang perempuan yang akrab disapa Pur itu kepada Seputarkudus.com beberapa waktu lalu.

Warga Panjunan, Kota, Kudus itu mengatakan, karena sudah sangat berpengalaman sejak remaja membuat soto, warung soto di tepi jalan itu lumayan laris dan memiliki banyak pelanggan. Hasilnya cukup untuk mengontrak tempat untuk berjualan meskipun masih agak sempit.

“Ibuku jualan di tepi jalan dan mengontrak tempat itu lumayan lama hingga sampai 22 tahun. Soto Bu Djatmi kemudian makin diminati dan pelanggan juga makin banyak. Bahkan ibuku bisa menjual sekitar 250 porsi dalam sehari. Dari hasil tersebut lambat laun hasilnya bisa digunakan orang tuaku untuk membeli rumah dan dibuat untuk berjualan di tempat yang sekarang,” ungkapnya.

Perempuan yang sudah dikaruniai tiga anak itu mengatakan, sejak pindah di tempat sendiri yang lebih luas dan nyaman pada tahun 2002, pelanggan Soto Bu Djatmi makin meningkat lagi. Menurutnya, sejak pindah tersebut Warung Soto Djatmi mampu menjual sekitar 500 hingga 700 porsi sehari.

“Itu saat ramai pembeli, saat akhir pekan dan tanggal merah. Pada hari biasa kami masih mampu menjual sekitar 350 porsi sehari. Soto ayam dan soto kerbau dijual dengan harga sama yakni Rp 13 ribu seporsi,” jelasnya.

Dia menambahkan, ibunya sudah meninggal Oktober 2016. Kini dia bersama saudaranya bertekad mengembangkan usaha Warung Soto Djatmi peninggalan ibunya, agar tetap bertahan dan makin diminati banyak orang.

“Untuk menjaga agar para pelanggan tidak berpaling, kami selaku anaknya Bu Djatmi selalu menjaga cita rasa dari resep yang di ajarkan ibu kami. Semoga saja kami mampu mengemban amanah dan mampu mengembangkan serta buka cabang Warung Soto Djatmi lagi,” harap Pur yang mengaku Warung Soto Djatmi kini sudah memiliki cabang di tepi Jalan Jenderal Soedirman Desa Rendeng.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER