BETANEWS.ID, SEMARANG – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) akan membantu pencairan klaim Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) bagi para petani yang tanaman padinya mengalami puso akibat banjir.
Kepala Distanbun Provinsi Jateng Supriyanto mengatakan, berdasarkan laporan Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan hortikultura (BPTPH) Jateng, areal sawah padi yang tergenang banjir seluas 28.344 hektare dengan puso sebanyak 5.615 hektare.
“Dari laporan BPTPH yang tergenang berada di 12 kabupaten. Petani yang ikut Program AUTP dan telah mengajukan permohonan klaim kepada PT Jasindo sebagi perusahaan asuransi sebesar 883 hektare, atau setara dengan nilai klaim Rp5.295.780.000 (data ajuan 26 Desember 2022 – 3 Januari 2023),” ujarnya, Jumat (20/1/2023).
Baca juga: Ratusan Hektare Tanaman Padi Puso Akibat Banjir Akan Dapat Ganti Rugi, Rp 6 Juta per Hektare
Supriyanto mengatakan, Pemprov Jateng pada 2022 mengalokasikan Program AUTP sebesar 15.000 hektare. Dari program ini, pihaknya menanggung 20 persen premi yang harus dibayar petani yang terdaftar pada Program AUTP dari Pusat.
Terkait sisa lahan puso yang belum dicover oleh program AUTP, Kementerian Pertanian mempunyai program penyediaan benih bagi petani. Saat ini, Pemprov Jateng tengah menunggu ajuan jumlah bibit yang diperlukan dari pemerintah kabupaten
Target AUTP tersebut, tersebar di 29 kabupaten di Jateng, di antaranya Sragen, Grobogan, Pemalang, Brebes, Kudus, Demak, Kebumen, Purworejo, Blora, Sukoharjo, Klaten , dan Wonogiri.
Selain program AUTP dari Pemprov Jateng, pada 2022 juga mendapat target AUTP dari Pusat sebesar 100.000 hektare. Program ini disalurkan melalui Direktorat Pembiayaan Ditjenpiuep Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian.
Pada tahun itu, sejak tanggal 21 April – 5 Desember 2022, PT Jasindo selaku perusahaan asuransi, telah membayar ganti rugi klaim sebesar Rp3.123.780.000 atau setara dengan 520,63 hektare.
Baca juga: Ribuan Hektare Tanaman Padi di Kudus Puso Akibat Banjir, Dewan Minta Hak Asuransi Petani Jangan Dihilangkan
“Ketika terjadi kerusakan tanaman atau terjadi gagal panen, petani peserta asuransi akan diberikan ganti rugi klaim sebesar Rp6.000.000 per hektare per musim tanam,” ujarnya.
Ia mengatakan, jika sawah yang telah ikut program AUTP terkena bencana alam atau serangan OPT, sebelum dinyatakan berhak mendapatkan ganti rugi klaim, petugas asuransi dan POPT (Petugas OPT) akan melakukan survei pemeriksaan dan perhitungan kerusakan. Adapun klaim yang ditanggung pihak asuransi dengan syarat salah satunya apabila intensitas kerusakan mencapai lebih dari 75 persen dan luas kerusakan mencapai lebih dari 75 persen pada setiap luas petak yang terdampak.
Supriyanto mengatakan pada 2023, Pemprov Jateng menganggarkan Rp540 juta untuk subsidi pembayaran AUTP bagi 15.000 hektare lahan sawah. Sementara Pemerintah RI melalui Kementan menganggarkan seluas 100 ribu hektare, dengan nilai sekitar Rp4 miliar.
Petani di Desa Wonosoco, Undaan, Kudus, Suwarji mengatakan sawahnya sering diterjang banjir. Sebelum mengikuti program AUTP, ia mengaku terus merugi, hingga menjual harta benda untuk mencukupi kebutuhan tanam padi kembali.
Baca juga: Dua Pekan Terendam Banjir, 3.486 Hektare Tanaman Padi di Kudus Terancam Puso
“Dulu sampai jual motor untuk bercocok tanam kembali. Alhamdulillah tahun kemarin saya asuransikan dapat 3 juta rupiah, untuk bertanam kembali,” paparnya.
Setelah mengetahui manfaat AUTP, tahun ini ia mendaftarkan sawahnya seluas satu hektare.
Kepala Desa Wonosoco Setyo Budi mengatakan, di wilayahnya, sawah seluas 255 hektare terendam banjir. Namun, dari jumlah tersebut tidak semuanya mengasuransikan sawahnya.
Catatan kelompok tani Penggungrejo Desa Wonosoco, tahun lalu sebanyak 15 hektare lebih sawah memperoleh klaim AUTP. Total klaim yang diperoleh oleh anggota kelompok tani tersebut adalah Rp 90 juta. Klaim tersebut langsung ditransfer ke rekening kelompok tani. Adapun, kurun waktu pencairan rerata berkisar 3 bulan.
Editor: Ahmad Muhlisin

