BETANEWS.ID, SEMARANG – Berdasarkan catatan LRC-KJHAM, kasus kekerasan pada perempuan dan anak di Jawa Tengah selama periode 2017-2021 ada sebanyak 1.249. Sedangkan pada 2022 ada 147 kasus dan kesemua korbannya adalah perempuan. Menanggapi kasus tersebut, Partai Golkar Jateng membuka Pelayanan Pengaduan Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak sebagai upaya untuk memberi ruang aman bagi korban.
Ketua Kesatuan Perempuan Partai Golkar (KPPG) Jateng Padmasari Mestikajati menerangkan, posko pengaduan itu merupakan salah satu langkah nyata kepedulian terhadap korban kekerasan seksual. Sebab, aduan yang semakin naik adalah bentuk dari banyaknya korban yang sudah mulai berani bersuara.
“Yang melatarbelakangi terbentuknya ruang pengaduan adalah rasa keprihatinan kami terhadap kasus perempuan. Jadi ini menjadi langkah nyata kami untuk memberikan dukungan korban perempuan maupun anak agar mereka mempunyai ruang untuk mengadu,” jelasnya, Kamis (22/12/2022).
Baca juga: Kasus Kekerasan pada Perempuan dan Anak di Solo Selama Pandemi Meningkat
Mengenai angka kekerasan terhadap perempuan di Jateng yang semakin tinggi, Padma mengaku disebabkan oleh faktor korban yang dinilai berani bersuara. Sehingga, adanya ruang Pelayanan Pengaduan Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak ini, diharapkan bisa membatu melindungi para korban kekerasan.
“Kita sudah kordinasi juga dengan Dinas Perempuan dan memang masih tinggi. Tapi itu angka tinggi karena keberanian melaporkan. Jadi ini salah satunya kita membuat ruang pengaduan terhadap anak dan perempuan. Agar mereka tak merasa sendiri. Kami siapkan baik untuk advokasi dan pengaduan,” ujarnya.
Padma menambahkan, bagi korban kekerasan seksual yang ingin melapor atau datang ke ruang Pelayanan Pengaduan Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Partai Golkar bisa menghubungi hotline layanan telepon/WhatsAap di nomor 0812 7057 0524.
Baca juga: Kasus Kekerasan Pada Perempuan di Jateng Meningkat, Didominasi Ancaman Penyebaran Video Porno
Kabid Kualitas Hidup dan Perlindungan Perempuan (DP3A2PKB) Jateng Sri Dewi Indrajati tak menampik angka kekerasan terhadap perempuan yang masih tinggi. Ia pun mengaku berbagai upaya sudah dilakukan untuk mencegah adanya kekerasan seksual.
“Kami sudah melakukan sosialisasi, kerja sama dengan LSM (lembaga sosial masyarakat) untuk menyasar masyarakat-masyarakat yang sulit dijangkau. Kami juga memberikan rumah perlindungan pekerja perempuan di daerah Tanjung Emas,” imbuh Dwi.
Editor: Ahmad Muhlisin

