BETANEWS.ID, SOLO – 55 seniman dari 19 negara akan mengikuti Solo International Art Camp pada Desember 2022 hingga Januari 2023. Ajang tersebut kembali digelar setelah beberapa tahun vakum karena pandemi Covid-19. Mereka akan menampilkan karya seni dua dimensi dalam bentuk lukisan, tiga dimensi atau patung, serta seni kebudayaan.
Penggagas Solo International Art Camp, Sulistyo menerangkan bahwa event yang dipusatkan di Ndalem Joyokusuman, Gajahan, Solo itu juga diisi dengan dialog, workshop, dan pameran hasil karya seniman lokal dan mancanegara.
“Tahun ini diikuti seniman dari 19 negara, tetapi yang hadir sebanyak 16 negara. Sedangkan tiga negara lainnya terkendala aturan yang masih berlaku karena pandemi Covid-19, salah satunya Bangladesh,” jelas Sulistyo pada jumpa pers di Ndalem Joyokusuman, Kamis (22/12/2022).
Baca juga: Taman Satwa Taru Jurug Solo Akan Kembali Dibuka pada Akhir Januari 2023
Meski demikian, Sulistyo menjelaskan bahwa ketiga seniman yang tidak bisa hadir tetap mengirimkan karya-karyanya dan ditampilkan di Ndalem Joyokusuman. Sejumlah negara yang turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut di antaranya, Belanda, China, Filipina, serta India.
“Acara ini seharusnya digelar tahun 2020 lalu tetapi ditunda karena pandemi Covid-19,” ujarnya.
Solo International Art Camp diinisiasi oleh Yayasan Jagoan Indonesia. Acara tersebut pertama kali digelar tahun 2016 lalu dengan peserta dari 15 negara.
Untuk jadwalnya, lanjut Sulis, workshop seniman global pada 23 hingga 27 Desember, International Art & Cultural Stage pada 25 Desember 2022, dan ditutup dengan International Art Exhibiton pada 29 Desember 2022 hingga 5 Januari 2023.
Baca juga: Menteri Basuki Akan Buat Taman Balekambang Mirip TMII Jakarta, Ini Deretan Wahananya
“Kami juga mengenalkan sejumlah destinasi wisata di Solo Raya kepada mereka. Untuk city tour kita ajak ke Candi Cetho, Candi Sukuh terus ke keraton, Pura Mangkunegaran,” katanya.
Selain itu, para seniman juga akan ajak berkeliling ke Museum Keris, Museum Radya Pustaka, jalan-jalan ke Kampung Batik Laweyan, hingga menonton pertunjukan wayang orang.
“Melalui acara ini kami mengajak kepada seniman untuk rise together, rise stronger. Karena setelah pandemi ini kan boleh dibilang seniman itu yang paling kesulitan, karena tidak bisa tampil,” tuturnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

