BETANEWS.ID, SOLO – Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta menggelar latihan Tari Bedhaya Ketawang di Pendapa Agung Sasana Sewaka, Sasana Wilapa, Selasa (20/12/2022). Para penari tampak berlatih menarikan tarian sakral itu mengenakan pakaian jawa dan dengan selendang warna hijau.
Pasca insiden kemalingan yang terjadi di Keraton Kasunanan Surakarta beberapa waktu lalu, LDA Keraton Surakarta akhirnya bisa masuk ke keraton dan bisa latihan menari di sana. Tak hanya itu, saat ini Kubu Sinuwun Paku Buwono (PB) XIII dan LDA Keraton Surakarta juga sama-sama berjaga di kawasan Sasana Wilopo.
Ketua LDA Keraton Kasunanan Surakarta, GKR Koes Moertiyah atau Gusti Moeng mengatakan, adanya kabar pencurian itu menjadi momentum untuk bisa masuk kembali ke dalam kawasan Sasana Wilapa dan bisa melaksanakan latihan Tari Bedhaya Ketawang.
Baca juga: Di Balik Megahnya Keraton Solo Ternyata Ada Banyak Bangunan Rusak, Termasuk Tempat Tinggal Raja
Ia menuturkan, Tari Bedhaya Ketawang adalah tradisi yang selalu dilakukan pada hari Selasa Kliwon atau Anggoro Kasih. Tari tersebut hanya boleh ditampilkan di hadapan Raja Surakarta dan hanya ditarikan di Sasana Wilapa.
“Menjadi tugas sebuah lembaga adat untuk melakukan serangkaian salah satu upacara adat. Karena di Keraton Mataram itu yang punya Bedhaya kan hanya Keraton Surakarta. Kita sudah berada di dalam, kita melakukan hal yang menjadi kewajiban kita kan sudah 6 tahun nggak menjalankan. Masih bisa berjalan dengan 90 persen tidak ada halangan apa-apa untuk latihan hari ini,” kata Gusti Moeng.
Putri Paku Buwono XII itu menerangkan, sebelum sang ayahanda meninggal dunia, ia mendapatkan pesan untuk menjaga pusaka tersebut.
“Pada waktu beliau mau meninggal itu pesan kepada saya, ‘Koe Mur sing iso ngeladeni Eyang Ratu, Ojo Lali kowe kudu iso njumenengke Bedoyo Ketawang,” ungkapnya.
Tak lama setelah pihak LDA selesai melakukan latihan Bedhaya Ketawang, pihak Sinuwun Paku Buwono ke XIII juga melakukan latihan tarian yang sama. Para penari di kubu ini mengenakan pakaian adat jawa, namun menggunakan selendang berwarna biru. Mereka melaksanakan latihan setelah pihak LDA selesai.
Sentono Ndalem Keraton Kasunanan Surakarta, KRA Christophorus Aditiyas Suryo Admojonegoro mengatakan, latihan Tari Bedhaya Ketawang itu akan ditampilkan saat Jumenengan Hari Ulang Tahun (HUT) Raja atau upacara kenaikan tahta yang akan digelar pada Februari 2023 mendatang.
Baca juga: Museum Radya Pustaka, Museum Tertua di Indonesia yang Simpan Benda Peninggalan Keraton Solo
Ia menjelaskan, pihak keraton selalu mengadakan gladen (geladi) setiap Selasa Kliwon atau Anggoro Kasih. KRA Adit lantas mempertanyakan Tari Bedhaya Ketawang dari pihak Gusti Moeng. Padahal, menurutnya Sinuhun sudah menunjuk para penari untuk acara Jumenengan.
“Itu kan pertama yang dicari maling, tetapi kenapa masih ada di sini dan kemudian latihan Bedhaya Ketawang? Itu tarian untuk siapa? Karena di sini masih ada Raja yang sah jumeneng (bertahta),” ujar KRA Adit.
Lebih dari itu, KRA Adit mengatakan bahwa pihaknya hanya melaksanakan perintah dari Sinuwun. Yang mana, apa yang dilakukan oleh LDA itu menyalahi aturan keraton.
“Kami nanti akan melakukan musyawarah untuk itu semua. Karena tata cara ini tidak dibenarkan,” kata dia.
Editor: Ahmad Muhlisin

