BETANEWS.ID, KUDUS – Gelaran Artsotika Muria ke-4 resmi dibuka di Lapangan SD Negeri 2 Japan, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jumat (25/11/2022). Pembukaan acara yang akan dilaksanakan selama tiga hari itu dimeriahkan berbagai atraksi seni, salah satunya Barongan.
Ketua panitia Artsotika Muria ke-4 Dian Puspita Sari menjelaskan, pemilihan barongan itu sebagai apresiasi atas diakuinya sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) pada tahun ini.
“Ini untuk mengapresiasi barongan yang sudah lama dikenal sebagai kesenian di Kudus dan sekarang berhasil jadi Warisan Budaya Tak Benda Nasional,” katanya.
Baca juga: Lewat Pelatihan Ecoprint, Emak-Emak di Japan Diajari Bikin Produk Khas Muria
Dalam Artsotika Muria ke-4 itu, pihaknya menggelar berbagai acara, seperti pameran seni karya peserta pelatihan workshop ecoprint, launching buku, dan pameran lukisan.
“Jadi pembukaan ini memamerkan hasil workshop dari tanggal 20-24 November, bersamaan dengan melukis on the spot, ada mural, pasar rakyat, lalu serangkaian pertunjukan,” imbuhnya.
Dalam acara acara yang mengambil tema ngrekso bumi banyu mili itu, pihaknya juga mengadakan acara penanaman pohon, instalasi air, dan kincir air listrik yang dapat membantu warga Japan agar tidak kesusahan memanfaatkan air.
Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus Mutrikah mendukung penuh kegiatan Artsotika Muria. Pihaknya bahkan bersedia penuh mendukung dan mendampingi, terkait acara yang dapat mendukung potensi desa di Kudus itu.
Baca juga: Artsotika Muria, Festival Seni Penggugah Gerakan Peduli Kawasan Muria
“Partisipasi warga kita lihat sendiri sangat luar biasa, dari berbagai kegiatan mulai kesenian, keterampilan semua diikuti. Apalagi desa wisata sudah mendapatkan SK dari bupati ini berarti seluruh masyarakat dan pelaku wisata saling bersinergi dan berkolaborasi, bagaimana menggerakkan potensi budaya,” ujarnya.
Ia berharap, kegiatan tersebut dapat dilaksanakan secara berkelanjutan, sehingga tidak hanya di desa Japan, tapi juga desa-desa lainnya yang ada di lereng Gunung Muria.
“Kegiatan tidak boleh berhenti, jadi harus berjalan setiap tahun dan tentunya tidak berhenti satu desa ini, tetapi seluruh warga lereng Muria,” pungkasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

