BETANEWS.ID, PATI – Dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) juga dirasakan oleh perajin batik. Naiknya harga BBM, juga berimbas terhadap naiknya harga bahan baku batik.
Salah satu perajin di Kabupaten Pati, yakni Tamziz Al Anas mengatakan, kenaikan harga bahan baku batik saat ini mencapai sekitar 50 persen. Sehingga, hal itu membuat ongkos produksi batik juga ikut meningkat.

Baca juga: Wisata Sambil Belajar Membatik di Pati, Ini Tempatnya
“Harga kain dan malam untuk membatik ikut mengalami penyesuaian alias ikut mengalami kenaikan sekitar 50 persen,” ujar Tamziz, Owner Batik Yuliati Warno yang tinggal di Desa Langgenharjo, Kecamatan Juwana, Pati itu.
Tidak cuma itu,kenaikan harga BBM juga berimbas terhadap daya beli masyarakat menurun. Begitu pula dengan penjualan batik juga mengalami penurunan.
Menurutnya, biasanya dalam satu bulan ia bisa menjual sekitar 500 potong kain batik. Namun, setelah adanya kenaikan BBM ini, dirinya hanya bisa menjual separuhnya saja.
Ia menyebut, sebenarnya setelah pandemi Covid-19 sudah reda, perekonomian mulai bangkit. Perajin batik mulai bergairah lagi, karena tingkat beli masyarakat juga secara berlahan ikut naik.
Baca juga: Berburu Sarung Batik Khas Pati yang Jadi Idaman saat Lebaran
Meski begitu, menurutnya harga batik dari Batik Yuliarti Warno tidak siginifikan mengalami kenaikan. Yakni, masih cukup terjangkau bagi masyarakat. Harga di kisaran mulai Rp 100 ribu hingga jutaan rupiah.
Ia berharap, kondisi perekonomian tetap stabil, sehingga pelaku UMKM, khususnya perajin batik bisa bangkit. Apalagi setelah merasakan badai covid-19 yang cukup berat dirasakan oleh pelaku usaha.
Editor: Kholistiono

