BETANEWS.ID, SEMARANG – Para warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP) Kelas ll A Semarang kini merasakan banyak manfaat dari adanya berbagai pelatihan yang diadakan. Bahkan, mereka kini punya penghasilan dari jualan berbagai macam produk dari balik jeruji.
Salah satu yang diajarkan di lapas yang berada di Jalan Mgr Sugiyopranoto, Bulustalan, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang itu adalah membatik.
Mentor Vokasi Batik, Ecoprint, dan Craft, Sri Suharti menyampaikan, penjualan batik buatan warga binaan LPP kelas ll A Semarang kini sudah sampai mancanegara. Hal ini dikarenakan batik buatan mereka memiliki motif yang unik, kualitas yang bagus, serta harga yang terbilang terjangkau.
Baca juga: Produk Warga Lapas Perempuan Semarang Dipamerkan di Hotel Novotel Semarang
“Saat ini penjualan batik buatan mereka bahkan sudah sampai Kanada, dan beberapa wilayah di Indonesia,” katanya.
“Yang bikin daya tarik adalah harganya terjangkau, motif dan kualitasnya juga tak kalah bagus. Di sini batik tulis dengan pewarna alam ukuran 2,5 meter hanya Rp275 ribu saja. Batik kita jual mulai Rp250 ribu hingga Rp1 juta,” tambahnya.
Cici sapaan akrabnya menambahkan, batik yang mereka buat pun cukup lengkap, mulai dari batik tulis, cap, batik ciprat, hingga batik air brush. Selama satu bulan, para napi dapat menghasilkan 50 lembar kain, yang siap untuk dijual.
“Batik yang mereka buat cukup variatif ya, mulai dari tulis, cap, ciprat, sampai air brush semua ada. Bahkan mereka juga ada dua jenis pewarnaan, yaitu pewarna sintesis dan pewarna alam,” katanya.
Baca juga: 32 Warga Binaan Rutan Kudus Diberikan Pelatihan Otomotif
“Untuk jenis pewarna alam, biasanya pakai daun secang, tinggi, tiger, jolawe, manjakani, dan masih banyak lagi,” tambahnya.
Kemudian untuk cara membeli produk para napi, Cici menyebut, bisa melalui website dan sosial media Instagram @lpp.semarang.
“Belinya bisa lewat web, alamat webnya sudah dicantumkan di instagram @lpp.semarang, di web itu semua hasil karya napi dijual, jadi masyarakat bisa beli dari situ,” tutupnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

