BETANEWS.ID, SOLO – Malam itu, suasana hening langsung terasa ketika lampu dimatikan dan semua orang memerhatikan layar proyeksi. Semua berfokus pada film yang tengah diputar berjudul ‘Rupa Manusia’.
Film dokumenter yang berdurasi 26 menit itu merupakan karya dari Adhitia Armitrianto, Rezky Leksono, dan Tommy Y Setyawan. Tommy menceritakan, bahwa film tersebut bercerita tentang aktivitas para seniman di Semarang yang menciptakan karya tentang Hak Asasi Manusia (HAM).

Baca juga: Angkat Peristiwa Petrus di Barutikung Dalam Film, Adit: ‘Kasus Pelanggaran HAM Belum Tuntas’
“Berawal dari seorang seniman, Mas Konde itu dia adalah seorang pelukis yang sudah menghasilkan banyak karya. Pada 2016 itu, Mas Konde membuat pameran tentang Petrus (pembunuhan misterius). Di sini yang kami tangkap, bahwa seniman-seniman itu saling berkolaborasi, soal HAM mereka bersepakat untuk mengandakan acara kesenian berupa pameran, acara musik dan sebagainya untuk diperingati,” tutur Tommy.
Semenjak pameran tersebut digelar pada 2016 lalu, Tommy bersama timnya mengabadikan setiap yang dipamerkan dari tahun ke tahun hingga 2021 lalu.
“Narasi utamanya adalah kesadaran untuk para seniman di Semarang ini untuk bicara, untuk berekspresi tentang HAM, yang kemudian jadi diskusi adalah melabelisaisi, bahwa ekspresinya ini adalah ekspresi tetang HAM, karena momentumnya adalah HAM. Nah jadi itu yang kita capture untuk dijadikan film dokumenter,” paparnya.
Dengan hadirnya karya film dokumenter itu, Tommy dan kawan-kawan ingin agar momen setip Hari HAM tersebut tidak hanya sebatas dokumentasi saja. Namun bisa tersampaikan kepada masyarakat, bahwa ada kelompok seniman di Semarang yang peduli tentang isu HAM.
“Sehingga bisa tersampaikan ke masyarakat, bahwa ada kelompok seniman di Semarang yang hadir mengangkat tentanng HAM, kemudian yang bergabung dan berkampanye tentang HAM di hari HAM,” ujarnya.
Mulanya, seniman yang karyanya dipamerkan hanya milik dari Konde saja. Namun, seiring berjalannya waktu, semakin banyak seniman Semarang yang peduli dan mengangkat isu HAM. Sehingga, sampai pada 2021 lalu, Tommy mengatakan, sudah ada puluhan seniman yang karyanya tampil di film tersebut.
Kemudian, ketika berbicara soal apakah melalui film dokukenter tersebut efektif untuk mensosialisasikan penegakan HAM di kalangan masyarakat, menurut Tommy hal itu adalah sebuah proses.
Baca juga: Belajar Konservasi Alam Lewat Film Negeri Dongeng
“Saya pikir itu adalah proses yang kita belum bisa memantau sejauh mana, karena ini kami juga baru memulai. Tapi kita dalam target mengejar efektivitas pasti ada. Artinya menggunakan label hari HAM tadi, bagaimana mengkonsentrasikan kesadaran bahwa ini para seniman sedang berkampanye tentang HAM. Maka labelisasi ini kami tangkap, bahwa ini mengarah ke efektivitas tadi, ini adalah proses,” tuturnya.
Adapun acara nonton bareng dan diskusi film Rupa Manusia kali ini digelar di Kedai Boedjono yang terleak di Mojosongo, Kecamatan Jebres, Solo pada Selasa (19/7/2022) malam. Pada kegiatan tersebut, juga dihadiri oleh tokoh-tokoh seniman muda, senior, serta mahasiswa pecinta seni dan budaya.
Film dokumenter tersebut sudah diputar di beberapa daerah. Di antaranya di Pati, Jepara, Demak dan Solo.
Editor : Kholistiono

