BETANEWS.ID, KUDUS – Puluhan mahasiswa Anabaptist Mennonite Biblical Seminary (AMBS) dari Indiana, Amerika Serikat belajar toleransi beragama di Semarang. Tujuan kegiatan ini adalah untuk belajar agama di Indonesia, mempromosikan perdamaian, dan kesejahteraan bagi sesama, tanpa memandang agama, jenis kelamin, atau status sosial ekonomi.
Koordinator Persaudaraan Lintas Agama, Setyawan Budy menjelaskan, mahasiswa AMBS sudah melakukan kegiatan eksplore sejak 1 Juli lalu. Kegiatan tersebut fiikuti 15 mahasiswa, 10 dari mahasiswa AMBS dan 5 dari Indonesia.

Khusus kegiatan di Semarang, mereka belajar agama di Vihara Watugong, Pura Agung Girinatha, Masjid Nusrat Jahan, Susteran Penyelenggaraan Ilahi, dan GPIB Immanuel (Gereja Blenduk) pada Selasa (12/07/22).
Baca juga:
“Mereka datang memang untuk sama-sama belajar tentang ragam agama di Indonesia, khususnya Semarang,” ujarnya saat ditemui di Pura Agung Girinatha.
Adapun manfaat yang bisa didapatkan dalam kegiatan ini, yaitu mahasiswa dapat mengambil pelajaran dan nilai baik dari banyaknya masyarakat yang berbeda agamanya tetapi bisa hidup dengan rukun.
Selain itu, kegiatan ini juga bisa menjadi pemantik untuk mengajak anak muda Semarang ataupun Provinsi Jawa Tengah agar bisa membuka jaringan dengan teman-teman beda agama.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia(PHDI) Semarang Nengah Wirta Dharmayana mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurutnya, kegiatan tersebut sangat positif dan bisa menjadi jembatan untuk menguatkan toleransi antar agama dan budaya, serta dapat menggenalkan Pura Agung Girinatha Semarang ke warga asing.
Baca juga: Ganjar Dukung Cara NU Ajarkan Antiradikalisme dan Toleransi Sejak Dini
Dharmayana menambahkan, sebenarnya semua umat di dunia ini adalah saudara, jadi tidak ada perbedaan. Karena menurutnya, sebenarnya Tuhan hanya satu, tetapi manusia menyebutkan dengan nama yang berbeda-beda.
“Kita semua bersaudara karena kalau di agama Hindu masing-masing dalam diri kita ada akma yang menghidupkan kita. Akma itu adalah percikan dari Tuhan,” ujarnya.
“Kalau secara teologi Hindu, Tuhan hanya satu, tetapi orang-orang menyebutnya dengan nama yang berbeda, ada yang menyebutnya Tuhan, Allah, dan masih banyak lagi. Sehingga dengan adanya kegiatan ini saya berharap toleransi di Indonesia pun semakin kuat karena kita semua adalah saudara,” pungkasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

