BETANEWS.ID, BOYOLALI – Imbas Pandemi Covid-19 memang membuat banyak kalangan masyarakat mengalami kesulitan ekonomi. Tidak sedikit pula orang-orang yang harus menerima dampak harus dikeluarkan dari pekerjaannya.
Seperti halnya yang dialami Eko Sukaryanto (54). Ia yang mengajar seni melukis di beberapa sekolah mulai TK hingga SMA harus menerima kenyataan tidak lagi mengajar di semua sekolah tempatnya mengajar selama ini.

Kepada Betanews.id, Eko bercerita bahwa sejak kecil ia memang sudah hobi membuat lukisan. Mulai dari bangku sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), hingga sekolah menengah atas (SMA),ia sudah sering mengikuti lomba melukis, dari tingkat provinsi, bahkan hingga tingkat nasional.
Baca juga: Indahnya Lukisan Teknik Phyrograpy yang Klasik nan Elegan
Setelah tamat sekolah sekitar tahun 90-an, Eko bersama teman-temannya membuat lukisan kartu ucapan saat hari raya di pinggir jalan bersama teman-temannya. Namun, setelah itu ia memilih untuk melukis sendiri dengan membuat lukisan wajah.
Dengan karya-karyanya yang bagus itu, akhirnya banyak orang tua murid yang meminta kepadanya untuk mengajarkan kepada anak-anak mereka keterampilan melukis. Karena banyak permintaan, ia pun membuat sebuah bimbingan belajar (bimbel) melukis yang ia namai Sanggar Bintang Warna.
Ia juga diminta untuk mengajar di beberapa sekolah. Namun, karena Pandemi Covid-19, ia pun harus menerima kenyataan tidak lagi untuk diminta mengajar di sekolah.
Karena tak lagi mengajar di sekolah itu, ia kemudian menjadi pelukis jalananan di daerah Magelang. Hal itu menurutnya agar biaya untuk kehidupan sehari-hari bagi keluarga bisa tercukupi.
Baca juga: Kisah Solichin, Sempat Ditentang Ayahnya jadi Pelukis Hingga Karyanya Dibeli Orang Belanda
Apalagi, katanya ketika itu anaknya yang kecil dan baru lulus SMK ingin kuliah di ISI Solo dan ketika itu keterima. Bingung karena masih dalam kondisi pandemi, akhirnya ia pun pindah jadi pelukis jalanan di Solo. Hal itu sekaligus untuk menemani sang anak.
“Awalnya saya melukis di kawasan Manahan, Solo. Namun, karena capek harus berjalan memutari kawasan Manahan, akhirnya saya memutuskan untuk membuka lapak di bawah underpass tol di tepi jalan di daerah Sawahan, Negmplak, Boyolali, yang lokasinya juga tidak jauh dari lokasi sekolah anak, ” ujar Eko.
Dengan menekuni pekerjaanya itu, sedikit demi sedikit orang-orang mulai melirik karyanya yang sebagian ia pajang di dinding underpass tol itu. Lama-kelamaan banyak orang yang minat untuk dibuatkan lukisan wajah oleh Eko yang mendatangkan pundi-pundi rupiah baginya.
“Akhirnya saya telateni dan sabar, kok akhirnya bisa menguliahkan anak juga ternyata,” kata dia.
Baca juga: Mengenal Komunitas Perupa Kudus
Meski berlokasikan di kawasan yang cukup bising dengan suara kedaraan yang lewat, namun Eko tetap bisa menciptakan karya lukisannya di lokasi tersebut. Menurutnya, dirinya bukan tipe seniman yang idealis dan harus melukis di galeri ataupun tempat yang biasanya ditempati oleh pelukis-pelukis pada umumnya.
“Jadi ini saya berpikir bagaimana caranya dapur tetap terpenuhi, tapi terus berkarya. Soalnya banyak juga teman-teman pelukis yang tidak bisa membagi waktu, hampir sebagian pelukis itu orangnya idealis. Saya pernah menjual lukisan seharga Rp 60 juta satu lukisan. Tapi menjual lukisan satu lembar Rp 10 ribu juga pernah. Jadi di mana menentukan, oh ini harus saya jual di sini,” kata dia.
Tak hanya mengerjakan lukisan sendirian, Eko terkadang juga dibantu oleh putri bungsunya. Putri Eko yang bernama Auditya Rossi (18) sedari kecil juga sudah hobi melukis. Bahkan ia juga sering mengikuti berbagai ajang perlombaan melukis.
“Kalau bapak banyak pesenan sering bantu, rencananya mau kuliah di ISI, sekarang kelas XII di SMKN 9,” kata Audi.
Editor : Kholistiono

