BETANEWS.ID, KUDUS – Siang itu, di warung Ratu Pecak cukup ramai pengunjung yang sedang menikmati menu makanan yang tersedia di warung tersebut. Terlihat pula, seorang pria berambut gondrong dari arah dapur dengan membawa tampah berisi sate kalkun dan pecak kalkun yang merupakan menu khas warung tersebut. Ia adalah Awan Binuko (43), Pemilik Warung Ratu Pecak.
Awan begitu ia akrab disapa bersedia berbagi kisah merintis kuliner dengan menu khas dari ayam kalkun. Ia yang merupakan pencetus kuliner kalkun di Kudus ini, awalnya memiliki kegemaran beternak kalkun.

Baca juga : Ada Sate Kalkun dan Pecak Kalkun, Menu Spesial dari Warung Ratu Pecak yang Banyak Diburu Pecinta Kuliner
Ia pun memiliki gagasan, bagaimana kalkun yang selama ini hanya terkenal dengan ayam hias saja, bisa diolah menjadi kuliner. Sehingga, hal itu bisa memberdayakan para peternak kalkun, khususnya di wilayahnya.
“Pertama saya hobi ternak kalkun 2018, karena ekornya yang menyerupai dengan merak. Di desa kami ada beberapa orang yang hobi yang sama beternak kalkun. Kemudian saya tercetus ide kuliner dari kalkun, yang tak hanya sebagai hewan hias saja. Namun bisa juga dikonsumsi, agar para peternak kalkun seperti saya ini tidak kebingungan menjual kalkun,” beber Awan kepada betanews.id.
Awan pun kemudian mencoba membuat olahan ayam kalkun dan meminta kerabatnya untuk mencicipi masakannya itu. Hal tersebut menjadi titik awal ia memulai bisnis kuliner kalkun. Lantaran menurutnya, daging kalkun dipercaya daging yang rendah kolesterol dan bisa diolah menjadi makanan yang enak.
“Kemudia saya di komunitas kalkun ini mendorong teman-teman untuk membuat menu kuliner kalkun sebagai kuliner andalan di desa kami, yakni Desa Undaan Tengah. Yang saya lakukan ini tidak hanya untuk sekedar mencari materi saja, namun juga ingin meningkatkan perekonomian warga desa, bahkan memperkenalkan, bahwa kalkun ya di Undaan Tengah,” tuturnya.
Pada April 2021, lanjutnya, ia memulai membuka warung di rumahnya di dalam Gang 14 di Desa Undaan Tengah, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus. Meski tempatnya di dalam gang, namun hal itu tidak membuat pecinta kuliner segan berdatangan ke tempat tersebut. Beberapa pelanggan dari berbagai daerah yang sudah pernah mencicipi makanan di Ratu Pecak itu, bahkan dari luar daerah. Di antaranya dari Kudus, Pati, Jepara, Semarang, Demak, Solo, dan Jakarta.
“Ya Alhamdulillah dengan adanya kuliner kalkun ini, desa kami sudah dikenal dengan kuliner khas kalkun. Karena saat ini memang zamannya modernisasi, jadi saya manfaatkan sosial media sebagai pasaran, sehingga mereka bisa mengetahui di sini ada kuliner unik yakni kuliner kalkun,” terangnya.
Baca juga : Olahan Kalkun Ala Thailand di Dapur Raos Eco Undaan Ini Bikin Pengen Tambah Nasi Terus
Ia menjelaskan, banyak warga yang kepincut untuk datang warungnya, karena nama yang unik. Menurutnya, nama pecak diambil dari daerah Pekalongan, yang mana pecak adalah penyetan yang tak asing di Kudus. Alasan memilih pecak itu karena sebagai strategi pemasaran dirinya untuk memikat pembeli lantaran penasaran.
“Sudah banyak yang datang dengan menanyakan pecak itu apa. Kemudian saya beritahu bahwa pecak adalah penyet kalau bahasa Kudus. Pecak dari bahasa daerah Pekalongan dan Batang,” tuturnya di resto yang buka mulai pukul 10.00 hingga 21.00 WIB itu.
Editor : Kholistiono

