BETANEWS.ID, BANTUL – Belasan umat Hindu terlihat duduk di depan Pura Jagatnata yang berada di Jomblangan, Banguntapan, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Mereka bersiap mengikuti upacara mecaru yang jadi rangkaian ritual Hari Raya Nyepi. Setelah semua perlengkapan ritual siap, seorang pandita lantas memulai acara yang dilaksanakan menjelang petang itu.
Ketua Umum Hari Raya Nyepi Pura Jagatnata, Si Putu Sugiartha Sanjaya menjelaskan, upacara Mecaru adalah ritual untuk para Butha Kala. Butha Kala berarti tenaga atau kekuatan yang sangat besar sebagai manifestasi kehendak Sang Hyang Widhi dalam mengatur alam semesta.
“Tujuannya adalah untuk menyeimbangkan alam supaya harmonis. Tentunya kita memohon kepada Tuhan agar Butha Kala itu di-somya-kan. Artinnya dia bisa berpindah tempat ke tempat yang lebih baik supaya dia tidak mengganggu manusia,” jelas Putu Sugiartha, Rabu (2/3/2022).
Baca juga: Jelang Nyepi, Umat Hindu di Ngaru-Aru Boyolali Akan Arak Ogoh-Ogoh Setinggi 4,5 Meter
Menurutya, manusia sebenarnya bisa menjaga alam dengan melakukan kegiatan yang lain, seperti reresik segara atau membersihkan pantai dari sampah.
“Jadi reresik segara ini kami mebersihkan sampah yang ada di pantai, karena kalau sampah itu dibiarkan akan menjadi masalah bagi manusia. Itu adalah bentuk implemetasinya, tapi secara ritual kami mnyelenggarakan dengan upacara Mecaru,” paparnya.
Lebih lanjut, dalam upacara Mecaru, banyak hal yang harus disiapkan untuk persembahan. Beberapa diantaranya adalah bunga, jajanan, hasil bumi, dan hewan yang dikorbankan.
“Hewan yang digunakan untuk persembahan dalam Mecaru ini kita doakan supaya mendapatkan tempat yang lebih baik di sana,” jelasnya.
Di saat berdoa, upacara tersebut juga diiringi dengan gamelan dan tabuhan khas bali. Upacara ini, menurut Putu, dilaksanakan selama satu hingga satu setengah jam.
Setelah upcara Meracu selesai, jelas Putu, halaman pura dibersihkan dam kemudian umat Hindu malakukan sembahyang dan berdoa di dalam pura. Di sampinng itu, ada sesaji yang tadinya ditujukan untuk Butha Kala akan dilarung.
“Terus setelah sembahyang di dalam, umat kembali ke rumah masing masing. Tapi di rumah masing-masing mereka juga melakukan upacara yang sama, cuma levelnya di level rumah tangga. Jadi dia membersihkan di sekitar rumah, cuma ukuran sesajennya lebih sederhana,” jelas Putu.
Baca juga: Tanamkan Kecintaan Terhadap Budaya, SMB Cakra Purbakara Adakan Latihan Gamelan
Barulah setelah upacara Mecaru selesai, umat Hindu melakukan ibadah nyepi selama satu hari penuh, mulai dari pagi hari hingga pagi di hari berikutnya.
“Berarti 24 jam itu durasi kita untuk melakuakn refleksi, introspeksi, kontemplasi ya, menanyakan pada diri lah, apa saja sih yang sudah aku lakukan, apakah aku sudah melakukan hal yang buruk, di sana lah kesempatan kita untuk mengkontemplasi, mengintrospeksi diri supaya menjadi lebih baik,” lanjutnya.
Berbeda dengan sebelum pandemi Covid-19, upacara Mecaru di Pura Jagatnata ini hanya dilaksanakan secara sederhana. Bahkan prosesi arak-arakan ogoh-ogoh juga tidak dilakukan untuk menghindari kerumunan. Umat yang mengikuti upacara Mecaru juga hanya sedikit.
“Ya tentunya upacara kita adalah upacara level yang sederhana, tapi substansinya itu tidak ada yang berkurang,” tandas Putu.
Editor: Ahmad Muhlisin

