BETANEWS.ID, SOLO – Sumarah (59) terlihat telaten mengamati para karyawan membuat tahu di tempat produksi miliknya, Selasa (22/2/2022). Satu per satu proses produksi itu ia amati dan sesekali mengingatkan pegawai jika ada yang kurang baik. Hari itu, seperti hari-hari yang lain, tempat yang berada di Krajan RT 003, RW 003, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Kota Solo itu sudah membuat banyak sekali tahu untuk dipasarkan.
Meski harga kedelai masih tinggi, tempatnya itu terlihat masih produksi seperti biasa. Karena menurutnya, meski harga kedelai naik, ukuran tahu diperkecil, atau harga tahu naik, masyarakat tetap akan memburunya.

Selain itu, Sumarah juga tidak akan meninggalkan usaha yang diwarisi dari orangtuanya itu. Karena dari usaha itulah keluarganya menggantungkan hidup. Namun, ia tidak tahu pasti kapan usaha rumahan tersebut dirintis oleh orangtuanya.
Baca juga: Kisah Owner Treend Steak, dari Gagal Berkali-kali Hingga Sukses Punya 7 Cabang
“Semenjak saya belum lahir, orangtua sudah memproduksi tahu. Saya bahkan tidak megetahui sejak kapan orangtua mulai memproduksi tahu,” bebernya.
Kemudian setelah orang tuanya meninggal, lanjuta Sumarah, usaha tahu itu dilanjutkan oleh kakaknya. Namun, karena kakaknya sakit, estafet usaha dilanjutkan olehnya hingga saat ini
“Saya pegang ini sudah sejak umur 15 tahun. Sampai saat ini usia saya sudah segini,” ujarnya.
Dalam mempertahankan usaha tersebut, ia sudah cukup kenyang mengalami pasang surut usaha. Namun, semua halangan itu tak menyurutkan tekadnya untuk meneruskan usaha keluarganya itu.
Baca juga: Harga Kedelai Naik, Produsen Tahu di Solo Terpaksa Kurangi Ukuran
Saat ini, setiap harinya Sumarah memproduksi tahu sebanyak 60 kali. Dalam satu kali produksi, tempatnya bisa menghasilkan empat loyang, sehingga total sehari menghasilkan 240 loyang. Semua produksi itu dikerjakan oleh 13 karyawanny dari pukul 8.00 hingga 14.00 WIB.
“Kalau jenis tahunya di sini hanya satu saja, yang putih. Yang tahu kotak biasa itu satu loyang saya jual dengan harga Rp22 ribu. Terus yang tahu kepel yang biasa dibuat tahu bacem itu satu loyangnya Rp25 ribu,” beber Sumarah.
Sumarah membeberkan, sebenarnya proses produksi yang ia lakukan sama saja dengan produsen-produsen lain di sekitarnya. Namun, dari pengakuan pelanggan setianya, banyak yang mengatakan bahwa produk tahunya mengembang dan bagus saat digoreng.
“Katanya punya saya kelebihan itu kalau digoreng mengembang gitu,” tandasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

