BETANEWS.ID, SOLO – Langkanya minyak goreng yang tengah terjadi di berbagai daerah berpotensi menjadi salah satu sumber inflasi. Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Badan Pusat Statistika (BPS) Kota Solo, Totok Tavirijanto, usai melakukan peninjauan minyak goreng di Pasar Legi, Solo, Senin (7/2/2022).
Totok menyebut, berdasarkan pemantauan BPS, sejak Agustus 2021 lalu memang harga minyak goreng sudah mulai merangkak naik. Kemudian, puncak kenaikan harga terjadi pada November hingga Desember 2021 lalu.
“Tapi di bulan Januari karena sudah ada patokan HET (Harga Eceran Tertinggi) itu dia beberapa agak turun gitu, tapi itu hanya point-point saja, hanya beberapa saja dan sampai juga kesulitan untuk mendapatkan minyak yang biasa dibeli oleh masyarakat sehingga memang minyaknya jarang kita temukan,” paparnya.
Baca juga: Pemkot Solo Belum Bisa Operasi Pasar Minyak Goreng Karena Stok Kosong
Menurutnya, kelangkaan minyak goreng tersebut tentu akan berpengaruh terhadap inflasi.
“Jadi, minyak menjadi salah satu sumber inflasi yang ada di Solo Raya, saya rasa bukan hanya di Solo jadi di beberapa wilayah se-Indonesia,” ujarnya.
Lebih lanjut, menurut Totok, hal tersebut nantinya juga akan berdampak terhadap barang yang lain. Seperti diketahui, banyak UMKM yang memakai minyak goreng sebagai salah satu bahan baku.
“Misalnya di pedagang gorengan-gorengan itu, cuma karena harga minyaknya naik juga akan ngaruh nantinya ke harga yang lain,” kata dia.
Baca juga: Kecewanya Warga Semarang, Sejak Harga Minyak Goreng Disubsidi Keberadaannya Malah Langka
Saat melakukan tinjauan harga minyak goreng ke pedagang-pedagang di Pasar Legi, pihaknya menemukan hampir semua pedagang mengatakan bahwa stoknya sangat tipis.
“Kalau dibilang ada sih ada tapi sangat tipis, bahkan beberapa pedagang tadi juga sempat kalau dia kulakan itu oleh yang distributor itu dia diwajibkan beli barang yang lain, sehingga kaya terigu dengan itu dia bisa beli minyak gorengnya,” tandasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

