BETANEWS.ID, KUDUS – Di tepi Jalan Kiai Mojo, Kelurahan Mlati Kidul, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, tepatnya 50 meter sebelah selatan kantor Samsat, tampak sebuah gerobak. Di sampingnya tampak seorang pria sedang menggoreng aneka gorengan, seperti tahu, bakwan, mendoan dan lain sebagainya. Di sela ia menggoreng, beberapa kali para pelanggan datang untuk membeli. Pria tersebut yakni Ismail penjual gorengan.
Di sela aktivitasnya, pria berusia 39 itu sudi berbagi kisah tentang usahanya. Dia menuturkan, memulai jualan gorengan sejak lulus sekolah menengah pertama (SMP). Saat itu, ia yang berasal dari Cirebon merantau ke Jakarta untuk berjualan gorengan ke Ibu Kota yakni Jakarta.

Baca juga : Kisah Jatuh Bangun Ulin dari Buruh Pabrik Hingga jadi Juragan Seafood
“Namun banyaknya persaingan, saya jualan gorengan di Ibu Kota tidak lama, sekitar setahun. Setelah itu saya mencoba peruntungan jualan gorengan di Semarang,” ujar Ismail kepada Betanews.id, Senin (31/1/2022).
Di Kota Lumpia, jualan gorengan Ismail cukup laris dan punya banyak pelanggan. Di Semarang juga ia bertemu dan kemudian menikah dengan istrinya yang merupakan orang Kudus.
“Saya jualan di Semarang itu mulai tahun 2006 sampai 2017. Bahkan setelah punya anak pertama, saya dan istri tetap jualan di Semarang. Anak saya titipkan ke mertua dan saya pulang sepekan sekali,” ujar ayah dua anak tersebut.
Namun, lanjutnya, pria yang tercatat sebagai warga Desa Jepang Pakis, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus tersebut mengatakan, saat anaknya sudah kelas tiga SD, setiap ia dan istrinya pulang, anaknya selalu menangis ketika ia akan balik ke Semarang.
“Karena tidak tega itulah, saya pun memutuskan tahun 2017 untuk pindah jualan gorengan ke Kudus. Meski di Semarang saya sudah punya banyak pelanggan,” ungkapnya.
Baca juga : Kisah Kasminah, Nenek Renta yang Puluhan Tahun Jadi Tukang Tambal Ban
Ismail mengatakan, menjual aneka jenis gorengan. Di antaranya, ada ubi goreng, singkong goreng, bakwan, tahu kemul, mendoan, cireng dan tahu isi.
“Untuk harga, selain tahu isi saya banderol Rp 600 per biji. Sedangkan untuk tahu isi, saya jual lebih mahal yakni Rp 1 ribu per biji,” jelasnya.
Dia mengaku bersyukur, saat ini di Kudus gorengan yang dijualnya sudah banyak peminatnya dan jadi langganan. Dalam sehari, setidaknya ia bisa menjual sekitar 500 gorengan.
Editor : Kholistiono

