BETANEWS.ID, KUDUS – Di tepi Jalan alternatif Kudus – Pati, Desa Mejobo, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, tampak sebuah bengkel berukuran dua setengah meter kali tiga meter. Di dalamnya terlihat seorang perempuan tua sedang menambal ban sepeda motor. Perempuan tersebut yakni Kasminah (70) nenek renta yang sudah puluhan tahun jadi tukang tambal ban.
Ditemui di bengkelnya, seusai menambal ban sepeda motor milik pelanggannya, Kasminah sudi berbagi kisah hidup kepada Betanews.id. Dia menuturkan, mulai kerja jadi tukang tambal ban sejak 1980. Punya bengkel bersama suami. Meski dulu suaminya melarang ia menekuni jadi tambal ban, sebab pekerjaan tersebut dianggap tidak cocok untuk perempuan.

Baca juga : Sri Rela Gantikan Sang Suami jadi Tukang Tambal Ban Demi Biaya Kuliah Anak
“Dulu suamiku bekerja di pabrik dan saya buka bengkel. Dulunya suamiku melarang, tapi saya ngotot tetap buka bengkel tambal ban. Hingga akhirnya suami saya pun mengizinkan,” ujar Kasminah.
Kasminah mengungkapkan, dengan berjalannya waktu, bengkel tambal ban tersebut justru jadi sumber penghasilan utama bagi keluarga. Sebab setelah suaminya tak lagi kerja, dan sakit selama dua tahun yang akhirnya meninggal. Semua kebutuhan keluarga dan biaya berobat suaminya didapat dari kerja tambal ban.
“Sejak suamiku sakit dan meninggal, bengkel tambal ban inilah yang jadi tumpuan hidup. Membesarkan enam anakku serta biaya sekolahnya,” ujar perempuan yang kini sudah punya 10 cucu dan dua cicit tersebut.
Dia mengatakan, meski sudah uzur, ia tetap menekuni jadi tukang tambal ban. Meskipun, kata dia, anak – anaknya sebenarnya melarangnya. Namun, baginya jadi tukang tambal ban adalah pekerjaan yang sudah menolong perekonomian keluarganya. Ia pun sudah dikenal banyak orang dan punya banyak pelanggan.
“Saya ini sudah dikenal sebagai tukang tambal ban sejak dulu. Pelanggan juga sudah banyak. Tidak hanya orang Mejobo, tapi juga banyak yang datang dari desa lain,” bebernya.
Kasminah mengaku, bengkelnya tersebut selain menerima jasa tambal ban motor dan sepeda juga melayani jasa lainnya. Di antaranya, tambah angin, serta ganti ban. Berbeda dengan zaman dulu, sekarang pelanggannya agak berkurang. Penghasilan yang didapatkan pun tidak tentu.
“Untuk penghasilan tidak menentu, kadang ya Rp 20 ribu, terkadang Rp 50 ribu sehari. Seharian tidak ada pelanggan sama sekali juga pernah,” jelasnya.
Baca juga : Kisah Nursidi dan Sujadi, Puluhan Tahun Gantungkan Hidup pada Perahu Eretan di Sungai Wulan
Dia menuturkan, saat ini, dalam beraktivitas di bengkelnya terkadang dibantu oleh anak bungsunya. Kalau pas tidak ada anaknya tersebut, ia mengaku tak malu jika harus minta tolong pada pelanggan. Misal minta bantuan untuk membuka ban dan lainnya yang agak berat.
“Karena saya sudah sepuh terkadang memang minta bantuan ke pelanggan. Dan alhamdulillahnya mereka pada pengertian,” tutupnya.
Editor : Kholistiono

