BETANEWS.ID, KUDUS – Mengenakan baju batik lengan panjang, lengkap dengan peci warna hitam, tampak seorang pria sibuk menggoreng sempol ayam di atas gerobak motor. Setelah matang, kemudian diberikan sedikit saus dan dibungkus, untuk selanjutnya diberikan kepada pembeli yang sudah menunggu.
Usai melayani pembeli, pria bernama Sofil Fuad (44) tersebut, sudi berbagi cerita tentang usaha sempol ayamnya tersebut. Di Kudus, ia sudah sekitar delapan bulan berjualan sempol ayam.
Baca juga : Berawal Usaha Pentol Bermodal Rp 15 Ribu, Kini Sumi Sukses Rambah Bisnis Sempolan dan Tahu Walik
“Sebelum jualan sempol ayam di Kudus ini, dulunya saya sekitar 12 tahun sudah jualan sempol ayam di Malang. Saya biasanya jualan di tempat wisata, dan saya satu-satunya penjulan sempol krispi. Dan alhamdulillah, banyak diminati wisatawan di sana,” ujar Sofil yang jualan di tepi jalan kawasan GOR atau depan Taman Krida Kudus.
Ia kemudian melanjutkan kisahnya, jika, sebelum menetap dan berjualan sempol ayam di Malang, dulunya ia ikut membantu mengurusi toko tekstil milik ayahnya yang berada di Desa sunggingan, Kecamatan Kota, Kudus. Setidaknya, dia ikut membantu usaha ayahnya itu sekitar 13 tahun.
“Ya dulu ikut membantu mengurusi usaha orang tua di toko kain tekstil. Setiap kali ada barang yang sudah habis, saya langsung pergi membeli barang yang harus tersedia,” beber pria yang akrab disapa Sofil kepada betanews.id, Kamis (1/7/2021).
Usaha yang sudah berjalan puluhan tahun tersebut harus tutup lantaran sudah tidak bisa mengikuti perkembangan pada saat itu. Yang terjadi, ia dan keluarganya itu harus menutup usaha tersebut.
“Waktu itu, saya lupa pada tahun berapa usaha tekstil harus tutup, karena sudah tidak bisa mengikuti perkembangan model,” paparnya.
Beberapa tahun kemudian, setelah orang tuanya sudah meninggal, ia dan istrinya itu pindah ke Malang, lantaran istrinya berasal dari kota tersebut. Ia memulai berbisnis dengan berjualan sempol ayam di Kota Batu itu.
Baca juga : Bosan Jadi Sales, Ririn Rintis Jual Sempolan dan Tahu Krispi yang Laris Manis
Namun, setelah pandemi tahun lalu, ia kemudian memutuskan untuk kembali lagi ke Kudus dan meneruskan usaha sempol ayam khas Malang tersebut.
“Alhamdulillah, penjualan di masa pandemi ini setidaknya sehari biasanya saya membuat 500 tusuk sempol ayam di hari biasa, dan seribu pada akhir. Biasanya selalu habis,” tuntasnya.
Editor : Kholistiono

