31 C
Kudus
Senin, Januari 26, 2026

Lebih Efisien, Alat Ini Jadi Andalan RSI Kudus Tanggulangi Nyeri Pasien Paska Bedah

BETANEWS.ID, KUDUS – Tiga alat medis tampak berada di atas meja sebuah ruangan di Rumah Sakit Islam (RSI) Kudus. Ketiga alat medis tersebut biasa difungsikan untuk penghilang nyeri paska bedah. Namun yang terbaru adalah alat medis yang berada di tengah, berbentuk kotak dengan ukuran sekitar 10 x 12 sentimeter dengan tebal dua sentimeter. Alat termaksut terdapat tombol dan layar digital. Alat tersebut yakni Patient – Controlled Analgesia (PCA) alat penanggulangan nyeri paska bedah baru yang dimiliki oleh RSI Kudus.

dr. Bayu Residewanto selaku dokter anestesi untuk tindak kegawatdaruratan RSI Kudus menjelaskan, pada dasarnya ketiga alat tersebut yakni syringe pump, easy pump, dan PCA itu konsep fungsinya sama yakni penanggulangan nyeri untuk pasien paska bedah.  Namun, memang PCA lebih canggih dan lebih efisien dari pada dua alat lainnya.

Alat yang dimiliki RSI Kudus untuk tanggulangi nyeri pasien paska bedah. Foto: Rabu Sipan

Baca juga : Dengan GO-Darja, Kini Pendaftaran Pasien di RSUD Loekmono Hadi Tak Perlu Antre

-Advertisement-

“PCA sendiri di Kudus itu bisa dibilang barang baru. RSI Kudus sendiri punya PCA baru dua bulan, jadi masih baru. Meksipun sebenarnya di rumah sakit kota – kota besar sudah banyak yang menggunakan PCA. Serta jadi andalan penanggulangan nyeri pasien paska bedah di rumah sakit modern di Indonesia,” ujar pria yang akrab disapa Bayu kepada Betanews.id, beberapa hari lalu.

Bayu pun kemudian menerangkan secara rinci keunggulan dan kelemahan ketiga alat penanggulangan nyeri yang dimiliki RSI Kudus tersebut. Syringe pump tuturnya, keunggulannya pemberian obatnya bisa disetting otomatis, misal berapa dosis obat yang masuk setiap jamnya, serta bisa ditambah dosis bila sewaktu – waktu pasien merasakan nyeri. Namun, kelemahannya Syringe pump ini ribet dan membatasi mobilisasi pasien.

“Misal pasien mau ke kamar mandi, alat syringe pump tidak bisa dibawa. Harus dilepas dan nanti setelah dari kamar mandi dipasang dan diseting ulang,” ungkapnya.

Hal itu berbeda lagi dengan alat penanggulangan nyeri bernama syringe injektor (auto fuser). Alat penanggulangan nyeri ini bisa dibawa kemana saja oleh pasien, termasuk ke kamar mandi. Namun, kelemahan dari alat ini adalah dosisnya sudah paten dan tidak bisa diubah sesuai kebutuhan dosis pasien.

“Kelemahan syringe injektor ini memang dosisnya sudah paten. Sedangkan kebutuhan dosis penanggulangan nyeri setiap pasien kan beda – beda,” bebernya.

Sedangkan PCA lanjut Bayu, adalah penggabungan kedua alat itu yakni syringe pump dan syringe injektor. Keunggulannya jelas, pemberian dosis analgetik bisa disetting sesuai kebutuhan pasien. Bahkan bila sewaktu – waktu pasien merasakan nyeri bisa ditambahkan lagi dosisnya oleh si pasien melalui tombolnya.

Baca juga : Ambulans Pasien Covid-19 Milik RS Mardi Rahayu Ini Lebih Canggih dari Standar Ruang Isolasi

“Bagusnya lagi PCA itu juga dilengkapi kontrol yang berfungsi agar tidak terjadi kelebihan dosis. Selain itu alatnya juga bisa dibawa untuk mobilisasi pasien. Jadi memang lebih efektif dan simpel,” tandas Bayu.

Dia berharap dengan adanya PCA di Rumah Sakit Islam Sunan Kudus, penanggulangan nyeri pasien paska bedah bisa lebih maksimal. Jangan sampai pasien merasakan nyeri berkepanjangan. Sebab akan lebih susah penanganannya.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER