BETANEWS.ID, SEMARANG – Kasirah, warga Kelurahan Gondoriyo, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang dengan cekatan melayani pelanggan potong rambut di rumah kecilnya.
Menjadi tukang potong rambut adalah satu-satunya pekerjaan yang bisa dia lakukan. Keahlian itu dia dapatkan dari pengalamannya kerja di salon rambut ketika masih muda di suatu daerah di Kabupaten Semarang.
Namun, takdir berkata lain. Tiba-tiba orang tuanya, Pariyem jatuh. Beberapa minggu sempat dirawat hingga akhirnya Pariyem atau yang akrab dipanggil Mbah Yem itu lumpuh tak bisa berjalan.
Baca juga : Sri Rela Gantikan Sang Suami jadi Tukang Tambal Ban Demi Biaya Kuliah Anak
Hal itulah yang mengharuskan Kasirah meninggalkan pekerjaannya dan pulang kampung membuka usaha jasa potong rambut di rumahnya agar bisa bekerja sekaligus menjaga orang tua yang melahirkannya.”Ini wujud bakti saya kepada orang tua saya,” kata Kasirah, Senin (19/4/2021).
Keputusan Kasirah pulang ke rumah untuk menjaga ibunya ternyata tak gampang. Hasil dari jasa potong rambut di rumahnya ternyata tak seberapa. Dalam sehari, dia hanya bisa untung Rp 30 ribu.
“Harganya mau saya naikkan ya tak enak, karena rumah saya di desa. Ya harus sabarlah, dicukup-cukupkan,” ujarnya.
Sejak memutuskan membuka jasa potong rambut di rumahnya, hal pertama yang paing dia pikirkan memang soal harga. Sebab, tarif jasa potong rambut di tengah kota dan di kampung pasti berbeda.
Hingga akhirnya dia memutuskan untuk memberi tarif jasa potong rambut Rp 5 ribu. Meski mempunyai keuntungan sedikit, setidaknya dia masih mempunyai pemasukan untuk membiayai kehidupan keluarganya.”Mau gimana lagi, kalau di kampung kan tidak bisa mahal-mahal,” katanya.
Dari hasil membuka jasa potong rambut itu pula, Kasirah membagi penghasilannya untuk biaya perawatan Mbah Yem seperti untuk membeli pempers dan membeli makanan bergizi untuk Mbah Yem.
Baca juga : Cerita Haru Penjual Pisang di Pinggir Jalan, Siti: ‘Agar Anak Saya Bisa Sekolah Kayak Lainnya’
Disinggung soal bantuan selama pandemi, dia mengaku hanya pernah mendapat satu kali bantuan sembako. Padahal dia juga sudah mengajukan namanya ke perangkat desa.
“Kalau BPJS sudah, namun kalau bantuan selama pademi hanya pernah menerima satu kali ketika awal-awal pandemi. Setelah itu tak pernah lagi,” imbuhnya.
Meski hidup dengan keterbatasan, dia tetap bersyukur masih bisa menjaga orang tuanya. Setidaknya, dia ingin menjadi anak yang berbakti kepada orang tua. “Mau gimana lgi, Mbah Yem ini kan orang tua saya ya. Jadi harus berbakti,” katanya.
Editor : Kholistiono

