Dolanan Tradisional Meriahkan Tradisi Megengan di Pagerharjo Pati

BETANEWS.ID, PATI – Masyarakat di Kabupaten Pati memiliki tradisi unik dalam rangka menyambut Ramadan, yakni tepatnya pada bulan Syakban atau Ruwah dalam penanggalan Jawa. Salah satunya yakni di Desa Pagerharjo, Kecamatan Wedarijaksa, Pati.

Selain menghelat Megengan atau Ruwahan, warga Desa Pagerharjo juga menggelar pentas seni budaya yang dilaksanakan secara sederhana di masa pandemi Covid-19.

Kegiatan yang diisi dengan pengajian, tari, menyanyikan lagu religi, baca puisi, pencak silat, dan dolanan tradisional ini sebagai bentuk antusias masyarakat Pati, khususnya anak-anak menyambut bulan Ramadan.

-Advertisement-

Baca juga : Cara Anak-Anak di Pati Usir Kejenuhan di Masa Pandemi dengan Permainan Tradisional

“Kita punya kegiatan untuk menyambut bulan Ramadan yaitu Megengan. Kita juga buat acara tradisional dengan ciri khas kita yang selama ini hampir punah. Sekaligus melestarikan budaya-budaya yang hilang. Terlebih mengedukasi anak-anak,” ujar Moh Toyyib, Pegiat Omah Dolanan Tradisional, Sabtu (3/4/2021).

Mengenalkan keistimewaan bulan suci Ramadan kepada anak-anak, menurutnya menjadi penting, karena Allah menjanjikan pahala yang berlipat kepada umat yang menjalankan ibadah puasa.

“Kita perlu mengenalkan keistimewaan Ramadan ini kepada anak-anak. Pentas seni ini sebagai wujud syukur akan hadirnya bulan suci Ramadan,” jelasnya.

Sementara itu, salah satu Tokoh Masyarakat Pagerharjo, Nur Muhlisin mengatakan, hampir seluruh daerah di Nusantara memiliki tradisi yang berbeda dalam menyambut bulan Ramadan. Khusus di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, biasa menggelar Megengan.

Hanya saja, dikatakannya, setiap daerah memiliki cara yang masing-masing berbeda dalam melangsungkan Megengan. Di Pagerharjo, Megengan sejak dahulu dikemas seperti kenduri dengan bacaan tahlil dan kalimat toyibah.

“Paling dibacakan tahlil, kalimat toyibah, di masyarakat kita sudah biasa. Tidak ada doa khusus. Ini beda dengan peringatan Nisfu Syakban, beda lagi,” ujarnya.

Megengan oleh masyarakat Pati, juga biasa disebut Ruwahan. Megengan yang berarti menahan dalam bahasa Indonesia, atau secara luas dapat diartikan menahan segala nafsu dan membersihkan diri menjelang Ramadan. Sementara Ruwahan yang berangkat dari kata arwah, mempunyai arti mendoakan keluarga yang telah meninggal dunia.

Baca juga : Melestarikan Tradisi Ampyang Maulid di Masa Pandemi

“Biasanya dilaksanakan petengahan bulan Syakban di tanggal ganjil. Antara tanggal 16 sampai tanggal 29 atau 30 Syakban. Sehingga saat Ramadan tiba, kita sudah bisa tenang dan khusyuk menjalani ibadah Ramadan,” ungkapnya.

Ditambahkan, biasanya Megengan dilengkapi nasi berkat yang dikirimkan oleh warga ke musala setempat untuk kemudian didoakan dengan bacaan-bacaan tersebut. Untuk kemudian masing-masing warga membawa pulang nasi berkatan, selain yang dikirimkannya ke musala. Selepas kenduri, biasanya warga melanjutkannya dengan ziarah kubur.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER