Arta Pahala, sebuah toko pakaian anak-anak di Pasar Kliwon Kudus siang itu didatangi seorang kuli panggul, untuk mengantar karung berwarna putih. Karung berisi ratusan stel pakaian anak itu mulai dikeluarkan dari karung oleh sejumlah karyawan toko. Peran para kuli panggul di sana sangat penting, untuk distribusi barang milik para pedagang.

Khoirul Anas (29), satu diantara karyawan toko Arta Pahala berbagi informasi kepada Betanews.id tentang peran kuli panggul bagi para pedagang di Pasar Kliwon. Dia mengatakan, selain terbantu urusan mengangkat barang, kuli panggul Pasar Kliwon disebut bak detektif karena ikut melacak jika ada barang yang salah kirim.

Menurut pria yang akrab disapa Anas itu, beberpa kali mendengar kasus barang salah kirim atau hilang. Meski tak menimpa toko Arta Pahala, tetapi ia tak merasa asing dengan kejadian tersebut.

“Saya beberpa kali mendengar ada barang salah kirim, bahkan sampai hilang. Tapi kalau di sini Alhamdulillah belum pernah. Biasanya kuli panggul ikut melacak dan mencari barangnya jika ada kejadian seperti itu. Barang mudah ditemukan, karena mereka yang mengatur distribusi barang,” beber Anas di depan toko, Jumat (22/1/2021).

Kalau salah tulis biasanya bisa ketemu. Meski jarang, tapi ada juga yang hilang karena pemilik toko tidak mengaku. Kemarin ada ibu-ibu yang menangis karena barangnya hilang senilai Rp 8 juta

MamikKoordinator kuli panggul blok A

Anas menjelaskan, untuk satu karung barang dia membayar biaya bongkar dan kirim sebesar Rp 10 ribu kepada kuli panggul. Dia menilai biaya terbut tak memberatkan, karena adanya kuli panggul di sana, para pedagang merasa terbantu. Selain itu juga ada rasa aman karena mereka ikut berperan menjaga keamanan distribusi barang.

- advertisement -

Ditemui di lokasi yang sama, koordinator paguyuban kuli panggul blok A Pasar Kliwon, Samiyono (44), mengaku sering mendapat keluhan dari pedagang terkait salah kirim barang. Ia beserta rekan-rekan kuli panggul segera melacak distribusi barang ke toko jika ada kejadian tersebut.

Pria yang akrab disapa Mamik itu mengungkapkan, selain melacak barang ia juga mengkomunikasikan dengan jasa pengiriman. Dia menduga, kasus seperti itu ada dua kemungkinan, bisa disengaja oleh oknum nakal atau memang murni ketidaksengajaan.

“Bisa juga kalau ada oknum yang nakal sengaja menyelundupkan barang, atau memang murni salah menulis tujuan tokonya. Kalau salah tulis biasanya bisa ketemu. Meski jarang, tapi ada juga yang hilang karena pemilik toko tidak mengaku. Kemarin ada ibu-ibu yang menangis karena barangnya hilang senilai Rp 8 juta,” kata Mamik sambil menunjukan catatan nama toko dan jumlah karung pesanan.

Bapak dua anak itu melanjutkan, meski bukan yang bertanggung jawab, tetapi jika ada kasus seperti itu dia menjadi orang pertama yang dicari pedagang. Bahkan hampir 24 jam Mamik siap jika dihubungi orang terkait dengan urusan Pasar Kliwon.

“Saya kan mengontrol sesuai barang yang datang dari Jakarta ke toko mana saja setelah sampai di sini. Sedangkan distribusi barang itu tanggung jawab jasa pengiriman. Soal jumlah pesanan dan tujuan saya hanya memastikan sesuai data mereka,” tambahnya.


Tim Liputan: Ahmad Rosyidi, Rabu Sipan, Kaerul Umam (Reporter, Videografer). Suwoko (Editor Berita). Andi Sugiarto (Editor Video). Lisa Mayna Wulandari (Translator). Ahmad Rosyidi (Narator).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini