BETANEWS.ID, KUDUS – Toko Jenang Alya di Jalan Sosrokartono, Desa Kaliputu, Kecanatan Kudus, Kabupaten Kudus tampak cukup ramai siang itu. Seperti biasanya, para pembeli sibuk memilih jenang aneka rasa yang hendak dibeli. Tak jauh dari etalase toko, seorang pria yang mengenakan topi warna krem terlihat berkutat dengan beberapa lembar kain. Dia adalah Ali Marzuki (50) pemilik Toko Jenang Alya dan pengrajin bordir.
Ali begitu ia disapa kemudian menceritakan bisnis bordir yang sudah digelutinya sejak enam tahun lalu itu. Menurutnya, bordir merupakan kerajinan khas kudus yang harus tetap dijaga dan dikembangkan. Maka dari itu, ia dan istrinya berusaha membuat kain bordir dengan menciptakan motif-motif yang kekinian, agar selalu banyak peminatnya.

“Upaya kita agar selalu eksis, dengan menyuguhkan corak-corak yang sekiranya dapat diterima oleh kalangan zaman sekarang,” jelasnya, Selasa (15/12/2020).
Baca juga: Alfa Shoofa Punya Belasan Corak Batik Khas Kudus yang Cocok untuk Berbagai Acara
Bapak dua anak itu menerangkan, dalam pembuatan bordir, ada tiga macam teknik yang digunakan. Yang pertama ada teknik icik, yang menggunakan cara manual dalam pengerjaannya. Lalu yang kedua ada teknik juki, dengan pengerjaan menggunakn mesin. Nama juki diambil dari nama mesinnya yang bermerek juki. Lalu yang terakhir teknik menggunakan komputer yang pengerjaannya sudah cepat dan modern.
“Tetapi untuk yang lebih awetnya adalah bordir dengan teknik icik, karena lebih kuat daripada teknik lainnya,” ungkap Ali di toko yang buka setiap hari mulai pukul 08.00 WIB hingga 20.00 WIB itu.
Untuk jenis kainnya, Ali mengggunakan berbagai jenis kain antaranya kain satin, kain katun, kain sifon, dan kain sutra. Sedangkan produk-produk yang dihasilkan Ali, memiliki banyak pilihan, seperti kain kebaya bordir, kemeja, blezer, masker, mukena, dan tas.
Karena bordir yang dibuat Ali menggunakan teknik icik dan juki. Jadi harga yang dibanderol pun cukup terjangkau mulai Rp 400 ribu hingga Rp 2 juta, tergantung kain dan tingkat kesulitan.
Baca juga: Sri Rejeki Embroidery Bertahan Puluhan Tahun dengan Bordir Manual
Untuk menunjang penjualannya, selain menjual offline di Toko Jenang Alya. Ali juga menjualnya lewat media sosial, seperti Facebook dan Whatsapp. Selain itu, bordir karya Ali juga dijual di Pulau Bali, tetapi dengan menggunakan corak khas Bali.
“Saya berharap bisa terus membuat kerajinan bordir, agar tidak punah dan terus eksis seiring perkembangan zaman,” tutup Ali.
Editor: Ahmad Muhlisin

