BETANEWS.ID, PATI – Di sebuah rumah yang berada di Desa Sarirejo Gang II, RT 012 RW 002, Kecamatan Pati, Kabupaten Pati terlihat banyak tumpukan bonggol jagung. Nampak sepasang suami istri sedang sibuk membuat sesuatu dari bonggol jagung atau biasa disebut janggel. Pria itu adalah Ranu Adi (49) seorang perajin bonggol jagung.
Ranu, begitu ia akrab disapa mengatakan, jika ia mulai membuat kerajinan dari bonggol jagung ini sudah sejak tahun 2014. Awalnya ia melihat bonggol jagung yang berserakan dan cenderung menjadi limbah. Kemudian ia terpikir untuk membuat sesuatu yang menarik dan bermanfaat dari limbah tersebut.

Baca juga : Pengusaha Dekor di Kudus Sulap Gentong jadi Taman Indah Bernilai Jual Tinggi
“Saya sudah membuat kerajinan ini sudah sejak tahun 2014, tapi baru coba saya jual mulai tahun 2016 karena bisa dibilang waktu itu saya uji coba dulu. Awalnya saya melihat bonggol jagung ini di daerah Sukolilo berserakan saat musim panen raya dan terbilang menjadi limbah. Jadi saya mencoba membuat kerajinan dari bonggol jagung tersebut,” ujar Ranu kepada betanews.id, Rabu (4/11/2020).
Katanya, banyak yang tidak percaya dengan kerajinan yang ia buat, karena pada dasarnya bonggol jagung sangat rapuh. Benda yang ia buat pada awalnya ialah cincin yang pada waktu itu ia jual dengan harga Rp 25 ribu hingga Rp 50 ribu rupiah.
“Awalnya banyak yang tidak percaya, karena janggel ini kan kelihatannya rapuh, namun barang-barang yang saya buat terbukti kuat dan punya motif, serta corak yang unik seperti sisik ular. Seperti cincin ini banyak yang tidak percaya kalau ini terbuat dari janggel. Hanya bermodalkan sedikit saja dari janggel yang tadinya menjadi limbah, ternyata bisa mempunyai nilai ekonomi yang sangat tinggi,” terangnya.
Alat yang pertama kali Ranu gunakan ialah mengunakan mesin ampelas yang sudah rusak dan ia rakit sendiri untuk menghaluskan janggel. Namun pada tahun 2020 ini ia mendapatkan bantuan dari PPUD Universitas Muria Kudus berupa mesin untuk menghaluskan janggel dan juga mesin pemotong.
Hingga saat ini sudah banyak benda kreasi yang sudah Ranu buat. Mulai dari cincin, pipa rokok, bros, kalung, gelang, tatakan gelas, asbak, vas bunga, tempat tisu, tempat lampu, figura, kaligrafi dan masih banyak lagi. Harga yang ia patok bervariasi, mulai dari Rp 5 ribu untuk gantungan kunci hingga yang paling mahal jam tangan yang ia hargai hampir Rp 1,5 juta.
“Sekarang ini yang paking di minati tempat tisu, karena biasanya yang mencari seperti restoran-restoran dan tempat makan. Untuk tempat tisu saya hargai Dp 100 ribuan,” ujar pria yang memiliki tiga orang anak itu.
Saat ini Ranu mempunyai lima mitra kerja yang mulanya ia ajari hingga dapat membuat karya dari bonggol jagung ini. Di rumahnya ia dibantu sang istri dalam pengerjaanya. Dalam sehari ia bisa membuat 50 pcs benda-benda kecil seperti gantungan kunci, cincin dan sebagainya, 10 vas bunga dan 2 tempat tisu.
Baca juga : Kerajinan Limbah Plastik Seruni Handmade Tembus Pasar Dunia
Untuk memasarkan produknya, Ranu menggunakan media sosial Facebook dan sekarang sudah mulai berlatih menggunakan e-commerce. Penjualan karyanya sudah menembus luar kota, antara lain Kalimantan, Irian Jaya, Sulawesi dan kota lainnya.
Selain itu, Ranu juga sering mengikuti event UMKM yang diadakan di berbagai kota besar. Sempat akan menjangkau paaar internasional, Ranu masih terhambat dengan keterbatasan SDM yang dimilikinya.
Editor : Kholistiono

