BETANEWS.ID, KUDUS – Komunitas Kopi Muria akan membuat wisata edukasi kopi di lereng Pegunungan Muria, Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Wisata edukasi tersebut rencananya akan dilaunching pada Agustus 2020.
Ketua Komunitas Kopi Muria Pujiharto menuturkan, wisata edukasi yang mengusung konsep alam tersebut akan mengajak wisatawan berkeliling kebun. Selain, itu wisatawan akan diajari proses mengolah kopi dari proses memetik buah kopi hingga pengemasan produk siap seduh.

“Mumpung Agustus nanti ada panen raya. Buat kegiatan wisata edukasi, sekaligus kami soft opening base camp,” tuturnya saat ditemui selepas audiensi dengan Plt Bupati Kudus HM Hartopo di Pendopo Kabupaten Kudus, Selasa (7/7/2020).
Baca juga : Miris dengan Nasib Kopi Muria, Hikma Munculkan Brand Kopi Muria Wilhelmina
Dia menjelaskan, wisatawan yang datang, selain belajar bagaimana cara mengolah kopi, juga dapat memetik langsung buah jeruk pamelo yang tumbuh di lokasi wisata. Bonusnya, wisatawan dapat menikmati keindahan alam Pegunungan Muria sambil menikmati kopi, buah pamelo dan makanan khas Muria lainnya.
“Waktu yang tepat tanggal berapa kami akan buka, masih menyesuaikan. Karena masih menunggu izin dari Pak Bupati untuk membuka tempat edukasi bagi masyarakat,” terangnya.
Menurut Pujiharto, pihaknya tentu akan menerapkan protokol kesehatan Covid-19 di lokasi wisata. Hal tersebut dilakukannya agar para wisatawan dan pengelola wisata terhindar dari virus corona.
“Tetap pakai masker dan hand sanitizer saat masuk (lokasi wisata). Protokol kesehatan tetap kita laksanakan,” tuturnya.
Pujiharto menuturkan, dibuatnya wisata edukasi kopi menjadi bagian dari pemulihan ekonomi petani kopi di Muria. Menurutnya, sejak ada pandemi di bulan Maret 2020, penjualan biji dan bubuk kopi menurun hingga 90 persen.
“Sejak Maret, bahkan sebelumnya sudah sepi. Omzet kami turun sampai 90 persen dari kondisi normal,” tuturnya.
Selain itu, pihaknya juga akan menjual bubuk kopi kemasan kecil dengan harga Rp 3 ribu. “Selama ini yang kami jual kebanyakan ukuran besar yang harganya Rp 25 ribu per bungkus. Saya ingin ada kemasan kecil yang satu bungkusnya Rp 3 ribu,” tuturnya.
Pujiharto memberitahukan, di komunitas yang dipimpinnya beranggotakan sejumlah 20 orang. Di mana keseluruhan mengelola kebun kopi sekitar 240 hektare. Satu hektarnya, menurut Pujiharto menghasilkan sedikitnya tiga sampai empat ton biji kopi dalam setahun.
“Panennya setahun sekali. Nanti berarti bulan Agustus. Kalau saya sendiri tahun ini panen sekitar enam ton,” jelasnya.
Baca juga : Roastbean Coffee, Varian Baru dari Kopi Itheng
Sementara itu, Plt Bupati Kudus HM Hartopo menuturkan, Pemerintah Kabupaten Kudus akan selalu mendukung ide wisata edukasi kopi tersebut. Menurutnya, pihaknya juga akan membantu mesin produksi kopi elektrik yang dibutuhkan Komunitas Kopi Muria.
Namun dirinya menginginkan agar tempat dan akses menuju lokasi wisata harus bagus dan enak. Selain itu, juga ada fasilitas WiFi agar wisatawan yang datang nyaman.
“Kualitas makan harus oke. Gak boleh bentuknya saja yang menarik, makanan harus benar-benar enak,” jelasnya.
Selain itu, untuk sementara waktu wisatawan yang datang harus dari Kabupaten Kudus sendiri, tidak boleh dari luar Kabupaten Kudus. Pengelola wisata harus benar-benar melaksanakan protokol kesehatan dan kapasitas pengunjung harus diatur.
Editor : Kholistiono

