Gamelan dari Seniman Prancis dan Tari Ritual Jepang Warnai Festival Muria Raya #6

BETANEWS.ID, KUDUS – Festival Muria Raya bukan sekadar agenda tahunan. Pada penyelenggaraan Festival Muria Raya #6 kali ini, acara terasa semakin istimewa dengan kehadiran seniman dari Prancis dan Jepang yang turut tampil dalam pertunjukan seni di Bumi Perkemahan Abiyoso, Desa Menawan, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Rabu (5/8/2026) malam.

Festival tersebut melibatkan warga, petani, seniman, dan berbagai elemen masyarakat untuk kembali memaknai hubungan antara manusia dengan alam. Tahun ini, Festival Muria Raya mengusung tema “Tepuk Gelang” sebagai simbol perjumpaan.

Direktur Festival Muria Raya, Brian Trinanda K. Adi, menyampaikan bahwa tema tersebut dipilih karena gelang menjadi simbol ikatan persaudaraan antarsesama. Menurutnya, bentuk gelang yang melingkar tanpa ujung melambangkan hubungan yang terus terjalin.

-Advertisement-

“Ini menjadi simbol ikatan persaudaraan antarsesama manusia sekaligus saling mendoakan,” bebernya.

Ia menjelaskan, perjalanan Festival Muria Raya yang kini memasuki tahun keenam merupakan bagian dari gerakan konservasi berbasis masyarakat. Kegiatan ini dimulai di Pati pada 2020, kemudian berlanjut ke Jepara, hingga kini digelar di Kudus dengan rute mengelilingi Gunung Muria berlawanan arah jarum jam atau pradaksina.

Baca juga : Hari Jadi Kudus ke-477, Kenduri Massal Tak Lagi 23 September, Bergeser ke 23 Agustus

“Ini menjadi perjalanan spiritual kami sekaligus mengikat persaudaraan se-Muria Raya agar tidak terputus,” katanya.

Pembukaan festival diawali dengan ruwatan sendang, kirab prasasti, hingga pertunjukan seni. Festival ini akan berlangsung hingga akhir Agustus dengan berbagai agenda budaya dan kegiatan komunitas.

Pembukaan kegiatan juga diwarnai prosesi Sabda Paseduluran, yakni penyatuan air yang dibawa para tamu dari berbagai daerah sebagai simbol ikrar persaudaraan. Menariknya, festival tahun ini turut dimeriahkan penampilan grup gamelan Compagnie Kotekan dari Prancis yang berkolaborasi dengan GAM16 Yogyakarta, serta pertunjukan tari ritual suci Kijin Kagura yang dibawakan seniman Jepang, Yuuta Kuroki.

Melalui berbagai agenda seni, budaya, tradisi, hingga sarasehan, pihak penyelenggara ingin mengajak masyarakat kembali ke desa sekaligus merawat semangat gotong royong yang dinilai mulai memudar.

“Desa berasal dari makna paradise atau paradiso. Jadi sebelum merdeka, terlebih dahulu kita harus merdesa. Saya membayangkan desa sebagai tempat yang ramah, menjunjung gotong royong, dan hidup berdampingan dengan alam,” jelasnya.

Brian menilai, menjaga kelestarian alam tidak hanya dilakukan dengan menanam pohon, tetapi juga menghayati keberadaan pohon beserta ekosistemnya. Menurutnya, air, kesenian, kebudayaan, pertanian, dan pangan merupakan satu kesatuan ekologi yang harus dijaga bersama.

Sementara itu, Presiden Compagnie Kotekan asal Prancis, Sarah Andrieu, menuturkan kolaborasi tersebut menjadi pengalaman pertamanya tampil di Kudus. Bersama pimpinan artistik sekaligus komposer, Jean-Pierre Pawak Goudard, ia mengaku terkesan dan gembira dapat menjadi bagian dari Festival Muria Raya #6 di Desa Menawan.

“Kami sangat tersanjung bisa berpartisipasi dalam festival ini. Gamelan membuka ruang bagi siapa saja untuk berkarya bersama,” ungkapnya.

Ia menilai tradisi gotong royong dan kerja sama di Indonesia masih sangat kuat. Karena itu, ia berharap semangat kolektif tersebut terus dijaga, terutama oleh generasi muda dalam bidang seni dan kebudayaan.

“Gamelan menjadi contoh bahwa semua orang bisa menikmatinya, berkarya bersama, dan membangun kerja kolektif,” tandasnya.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER