BETANEWS.ID, KUDUS – Momen bulan suci Ramadan yang biasanya menjadi puncak penjualan bedug, kini justru terasa sepi bagi perajin di Kabupaten Kudus. Hal itu dialami Sugiarto (48), pemilik Istana Bedug di Desa Kedungsari, Kecamatan Gebog.
Ia mengaku, pada Ramadan tahun-tahun sebelum pandemi, pesanan bedug bisa mencapai sekitar 10 unit dan rebana hingga ratusan set. Namun, kini jumlah pesanan menurun drastis. Bahkan, sekarang hanya laku satu unit bedug saja dan untuk rebana laku puluhan unit.
“Tiga tahun lalu itu bisa sampai 10 biji, sekarang hanya satu bedug dengan ukuran pesanan 60 x 120 sentimeter, itu pun pesanan dari Palembang. Sedangkan kalau untuk rebana, saat ini laku sekitar 20 set, menurun drastis dibandingkan dengan tahun sebelum Corona,” katanya saat ditemui di gudang produksinya, Desa Kedungsari Kecamatan Gebog, Jumat (27/2/2026).
Sugiarto menjelaskan, usaha yang dirintis sejak tahun 2000 dan merupakan warisan dari orang tuanya tersebut memproduksi bedug dengan berbagai ukuran. Mulai diameter 60 sentimeter dan panjang 120 sentimeter hingga diameter bedug mencapai 160 sentimeter dan panjang 2 meter. Harga bedug pun bervariasi, mulai dari Rp10 juta hingga Rp150 juta, tergantung ukuran dan bahan.
Baca juga: Brand Fashion Ternama dan Terlengkap Kini Hadir di Kudus
“Sementara untuk harga rebana, per satu set sekitar Rp2,5 juta. Paket itu mendapatkan beberapa unit, di antaranya meliputi empat rebana hadroh (terbangan), 1 buah bass (bass habsy/bass mika), 1 buah darbuka (calti), 2 buah keprak (keplak), dan 1 buah tam,” jelasnya.
Ia menyebut, seluruh bedug dibuat di rumah produksi dari kayu trembesi utuh dengan usia bahan mencapai 100–300 tahun yang didatangkan dari berbagai daerah seperti Ciamis, Banyuwangi, Jakarta, dan lain sebagainya. Sementara bagian kulit menggunakan kulit kerbau karena dinilai lebih kuat dan menghasilkan suara lebih baik.
Lesunya pesanan, kata Sugiarto, dipengaruhi kondisi ekonomi masyarakat yang belum pulih sepenuhnya. Sejak 2020, tren permintaan terus menurun hingga sekarang.
“Perekonomian sekarang tidak seperti dulu. Mau tidak mau saya harus mencari celah usaha lain, karena kalau hanya bertahan di bedug dan rebana saja tidak cukup,” jelasnya.
Meski demikian, ia tetap mempertahankan produksi sebagai bentuk menjaga warisan keluarga. Saat ini masih tersisa stok ratusan set rebana dan sekitar 30 unit bedug di gudang penyimpanannya.
Editor: Kholistiono

