Malam di kawasan GOR Kudus hampir tak pernah benar-benar sepi. Lampu-lampu pedagang memantul di aspal yang lembap dan suara kendaraan bersahut-sahutan. Di tengah keramaian itu, sebuah motor yang disulap menjadi lapak sederhana tampak dikerubungi pembeli.
Di sanalah Nadia (19), pemilik lapak Telur Gulung dan Sempolan Ayam Numan, tampak cekatan melayani para pembeli. Dengan tangan terampil, ia menggulung telur dan membentuk sempolan ayam, sesekali melempar senyum kepada pelanggan yang datang silih berganti.
“Dulu waktu sekolah aku sering banget jajan sempolan. Mamaku kerja di DPR situ, jadi aku selalu minta uang jajan. Karena keseringan, mamaku sampai gregetan dan akhirnya coba bikin sendiri. Eh, malah jadi peluang jualan,” cerita Nadia sambil tersenyum.
Baca juga: Bangkit dari PHK, Ferry Kini Sukses Buka Seafood Kerang Kaki Lima
Antrean kecil hampir selalu terlihat di depan motornya. Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa datang tanpa henti, terutama saat akhir pekan.
“Kalau hari Minggu bisa lebih dari 1.000 tusuk. Kalau hari biasa sekitar 300-an,” ujarnya saat ditemui beberapa waktu lalu.
Dengan harga Rp1.000 per tusuk, penjualan ratusan hingga ribuan tusuk per hari tentu memberi hasil yang menjanjikan. Nadia mengaku omzet hariannya berkisar antara Rp700 ribu hingga Rp900 ribu.
Saat ini, ia memiliki dua titik penjualan di sekitar GOR Kudus: satu di area Balai Jagong yang khusus buka hari Minggu, dan satu lagi di depan GOR yang beroperasi setiap hari.
Baca juga: Terinspirasi dari TikTok, Usaha Pangsit Paeco Jadi Primadona di Jepara
Soal jam kerja, Nadia nyaris tak mengenal libur. Ia membuka lapak sejak pukul 10.00 pagi hingga sekitar pukul 21.00 atau 22.00 WIB. Hanya jika ada acara keluarga, ia menyesuaikan waktu dan baru mulai berjualan pada sore hari.
Ia juga menanbahkan, setelah punya banyak pelanggan, kini Nadia rutin berbelanja bahan baku dalam jumlah besar. Sekali ke pasar, ia bisa membeli hingga 20 kilogram campuran ayam, tepung, dan bumbu dapur. Bahan-bahan itu kemudian diolah menjadi sekitar 1.000 tusuk sempolan.
Penulis: Muhammad Amaruddin, Mahasiswa PPL PBSI UMK
Editor: Ahmad Rosyidi

