31 C
Kudus
Rabu, Februari 11, 2026

Sambut Ramadan, Tradisi Baratan Ratu Kalinyamat di Kriyan Jepara Disambut Antusias Warga

BETANEWS.ID,JEPARA– Iringan gending Jawa dalam lagu Kidung Reksabumi membuat suasana di Pelataran Masjid Al-Makmur, Desa Kriyan, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara yang tadinya ramai menjadi sunyi.

Musik itu turut mengiringi keluarnya Pasukan Ksatriya Sholawat Nuur Muhammad SAW dari Desa Garung Kidul, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus beserta empat prajurit sapu jagat.

Tak lama setelahnya, sepuluh orang dayang dan pemeran Ratu Kalinyamat muncul, sebagai pertanda dimulainya tradisi Pesta Baratan Ratu Kalinyamat.

-Advertisement-

Baca juga : Jalankan Arahan Presiden, Pemkab Jepara Galakkan Gerakan Jepara Bersih-Bersih 

Setelah menerima kendi berisi air Tirta Kahuripan dan keris, pemeran Ratu Kalinyamat kemudian diarak dengan menaiki kuda keliling Desa Kriyan dengan jarak sepanjang 4,6 km. Dibelakangnya terdapat rombongan pawai yang membawa obor dan impes.

Tokoh Masyarakat Desa Kriyan, Muhammad menjelaskan, Baratan merupakan tradisi yang rutin digelar setiap tahun di desanya. Tradisi itu diadakan setelah tanggal 15 di Bulan Sya’ban.

“Baratan itu tradisi untuk memperingati bulan Sya’ban, sebagai pengingat sebentar lagi akan masuk di Bulan Ramadan,” kata Muhammad saat ditemui usai pelaksanaan Tradisi Baratan di Desa Kriyan, Minggu (8/2/2026) malam.

Muhammad menjelaskan, tahun ini pelaksanaan Tradisi Baratan cukup berbeda. Sehari sebelumnya, pada Sabtu, (7/2/2026) diadakan Sedekah Bumi dan Ngaji Budaya untuk mengenalkan budaya Desa Kriyan dan Ratu Kalinyamat kepada generasi muda.

Setiap tahun, gelaran Tradisi Baratan juga selalu mengangkat tema yang berbeda-beda. Tema itu mengangkat tempat-tempat historis di Desa Kriyan pada saat menjadi pusat Keraton Ratu Kalinyamat.

“Tahun ini tema yang kita angkat Kutho Bedah yang maknanya menunjukkan batas-batas Keraton Kalinyamatan yang ada di jaman dulu,”jelasnya.

Sementara itu, Steering Committee Tradisi Baratan Ratu Kalinyamat di Desa Kriyan, M. Hisyam Maliki mengatakan, dalam pelaksanaannya, konsep kegiatan baratan berbeda dengan makna dari tema yang diangkat.

“Kutho Bedah kan pecahnya atau jatuhnya Kerajaan Ratu Kalinyamat. Akan tetapi kita memiliki point of view yang berbeda. Dimana kutho Bedah ini kita jadikan sebuah ledakan dengan mempublikasikan kegiatan ini dengan sebesar-besarnya agar dikenal masyarakat luas,” jelas Hisyam.

Baca juga: Imbas Cuaca Ekstrem, Pantai Teluk Awur Jepara Dipenuhi Sampah

Rute pelaksanaan kirab yaitu melewati titik-titik penting di Desa Kriyan. Yaitu melewati Dukuh Kauman, Siti Hinggil, Krajan, dan Winong. Titik awal dan akhir kirab juga sama yaitu dari Masjid Al-Makmur.

“Rute perjalanan ini melewati empat area penting, yakni berpusat di kauman, jalan ke siti hinggil, lalu kerajan dan winong. Empat titik itu punya makna masing-masing,” pungkasnya.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER