BETANEWS.ID, PATI – Banjir yang melanda Desa Tunggulsari, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, mengakibatkan aktivitas petani tambak lumpuh. Sebagian besar tambak ikan di desa pesisir tersebut jebol akibat terjangan banjir yang sudah berlangsung selama dua pekan terakhir.
Dampak banjir ini cukup serius, mengingat sekitar 90 persen warga Desa Tunggulsari menggantungkan hidupnya dari sektor pertambakan. Terendamnya tambak membuat roda perekonomian masyarakat setempat praktis terhenti.
Baca Juga: Giliran Kantor Koperasi di Pati Digeledah KPK, Petugas Angkut 5 Koper
Kepala Desa Tunggulsari, Setyo Wahyudi menyebutkan, total luas tambak ikan di wilayahnya mencapai 160 hektare. Tambak-tambak tersebut sebagian besar digunakan untuk budidaya ikan nila salin, yang merupakan komoditas unggulan Kabupaten Pati.
“Dampak budidaya ikan nila salin pastinya mengalami kerusakan. Dari 160 hektare, yang sudah terdampak 100 hektare. Di atas 60 persen yang terdampak musibah banjir tahun ini. Diperparah jebolnya tanggul dari Sungai Desa Jepat Kidul memperparah kerusakan tambak di Desa Tunggulsari,” ujarnya, Senin (26/1/2026).
Ia menjelaskan, banjir yang merendam kawasan tambak menyebabkan sekitar 100 hektare lahan mengalami kerusakan. Selain dipicu curah hujan tinggi, kondisi tersebut diperparah oleh rusaknya tanggul sungai di sekitar desa.
“Secara ekonomi ini lumpuh, karena aktivitas di tambak petani tidak bisa maksimal. Mereka masih bisa memberikan waring yang itu hanya bisa dilakukan supaya ikan-ikan tidak lepas. Di sini 90- persen petambak, kemudian yang tidak punya tambak berpenghasilan bekerja di tambak,” jelas Yudi.
Akibat bencana tersebut, kerugian kolektif petani tambak di Desa Tunggulsari diperkirakan mencapai Rp 5 miliar. Para petani gagal panen ikan nila salin lantaran banyak ikan mati dan hanyut terbawa arus banjir.
Ironisnya, banjir datang saat sebagian petani mendekati masa panen. Ikan nila salin yang telah dipelihara dengan biaya besar justru lepas terbawa air.
“Potensi kerugian tidak sedikit, ada petani yang tinggal beberapa saat lagi panen, tapi airnya kemana-mana. Kalau airnya penuh itu pasti kerugian makin besar karena pakan yang digunakan udah banyak, sehingga kerugian makin besar ketika ikan udah dikasih makan tetapi belum bisa dipanen,” ucapnya.
Yudi menambahkan, ikan nila salin menjadi komoditas utama yang dibudidayakan warga. Sekitar 90 persen petani tambak memilih komoditas tersebut, sementara sisanya membudidayakan jenis ikan lain.
“Ada komoditas lain seperti bandeng, tetapi nggak sampai 10 persen karena petani di sini lebih memilih ikan nila salin karena waktu panen pendek dan harga stabil. Selain itu, udang vaname juga ada sebagai campuran di budidaya ikan nila salin,” sebutnya.
Ia menilai, banjir yang kerap menggenangi area tambak dan permukiman disebabkan oleh pendangkalan sungai sehingga aliran air tidak lancar menuju muara laut. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah desa untuk mengantisipasi kondisi tersebut.
“Kenapa ada banjir atau rob yang menggenangi area tambak dan perkampungan, kemungkinan ada pendangkalan sungai sehingga air tidak langsung ke muara laut. Di tahun 2023 sampai 2024 sudah kita normalisasi di sungai desa, bahkan pada akhir 2024 kita mendatangkan eskavator dan tronton untuk menanggul dan memperdalam sungai,” ungkapnya.
Baca Juga: KPK Terus Sisir Pati Pasca OTT Sudewo, Sejumlah Lokasi Kembali Digeledah
Menurutnya, Pemerintah Desa Tunggulsari bersama kelompok tani tambak telah melakukan normalisasi sungai sejak 2023 hingga 2024 dengan melibatkan alat berat dan kerja manual. Namun, upaya tersebut belum mampu menahan besarnya debit air.
“Namun, kekuatan air lebih dahsyat daripada kemampuan kita dalam menanggulangi gelombang air, akhirnya yang udah kita perbaiki jebol lagi. Dua tahun kita tanggulangi titik kritis supaya rob tidak naik ke desa tetapi tidak bisa melawan alam, artinya ini murni alam yang sudah berubah tidak seperti beberapa tahun yang lalu dampak kerusakannya,” pungkasnya.
Editor: Haikal Rosyada

