Awalnya Ikut-Ikutan, Aji Kini Punya 5 Cabang Gorengan Khas Cirebon di Pati

BETANEWS.ID, PATI – Sejak pukul 07.00 WIB, aroma gorengan sudah tercium dari sebuah lapak di pinggir Jalan Raya Pati–Tayu, tepatnya di Kembangarum, Ngemplak Kidul, Kecamatan Margoyoso. Seorang pria di sebuah gerobak sederhana tampak sibuk melayani pelanggan yang datang silih berganti. Dia tak alain adalah Aji Susanto (43), perantau asal Cirebon yang kini sukses mengembangkan usaha aneka gorengan hingga memiliki lima cabang di wilayah Pati dan Kudus.

Aji menjelaskan, bahwa awalnya ia hanya mengikuti ajakan dari sang kakak untuk membantu berjualan. Setelah belajar dari sang kakak, akhirnya muncul keinginan untuk memiliki usaha sendiri.

Baca Juga: Murah Meriah, Singkong Keju dan Piscok Mariono Jadi Favorit Mahasiswa UIN Sunan Kudus

-Advertisement-

“Ide awalnya dari ikut-ikutan. Dulu diajak kakak berjualan. Lalu belajar sampai akhirnya pengen buka sendiri,” terang Aji saat ditemui beberapa waktu lalu.

Keputusan itu ternyata menjadi titik balik hidupnya. Perlahan, usaha gorengan yang ia rintis tumbuh dan dikenal banyak pelanggan. Kini, cabangnya tersebar di Tlogowungu, Gembong, Ngemplak, Juwono, dan Kudus.

Khusus cabang Ngemplak yang berdiri sejak 2023, skala produksinya terbilang besar. Dalam sehari, Aji bisa menghabiskan satu karung tepung, lima tabung gas, dan dua dus minyak goreng. Angka tersebut menggambarkan tingginya permintaan pasar terhadap gorengan khas racikannya.

Tak hanya mengandalkan rasa, Aji juga menerapkan sistem operasional yang cukup rapi. Pasokan bahan baku diatur secara rutin setiap pekan.

“Setoran bahan-bahan dilakukan seminggu sekali, setiap hari Rabu,” jelasnya.

Keunikan gorengan Aji terletak pada cita rasa khas Cirebon, terutama tempe krispinya yang tipis dan renyah. Menuritnya, teknik penggorengan yang khas membuat teksturnya berbeda dari gorengan pada umumnya.

“Gorengannya sama seperti yang lain, tapi tempenya krispi, tipis, dan khas Cirebon, karena saya memang asli sana,” katanya.

Pilihan menunya pun beragam, mulai dari molen pisang, molen ubi, tempe, tahu, cireng, hingga bakwan. Seluruh gorengan dijual dengan harga sangat terjangkau, yaitu sekitar Rp1.000 per potong, sehingga bisa dinikmati semua kalangan.

Baca Juga: Gerobak “Getuk & Tiwul” Wiwi, Nostalgia Rasa Tradisional di Karangbener Kudus

Gerobak ini buka setiap hari mulai pukul 07.00 hingga 22.00 WIB. Dengan jam operasional 15 jam, pelanggan bisa menikmati gorengan hangat kapan saja, baik untuk sarapan maupun camilan malam.

“Omzet per cabang bisa mencapai sekitar Rp2 juta per hari. Harapannya tambah rame, bisa jalan lama, karena di sini juga masih ngekost. Semoga ke depan bisa buka cabang lagi,” tambahnya.

Penulis: Melly Andila Putri, Mahasiswa PPL PBSI UMK

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER