BETANEWS.ID, KUDUS – Di tengah keramaian mahasiswa yang lalu lalang, aroma singkong goreng dan pisang cokelat hangat tercium dari sebuah lapak sederhana. Di depan wajan penggorengan, seorang pria mengenakan topi dengan baju biru tampak cekatan membalik piscok dan potongan singkong keju.
Dia tak lain adalah Mariono (46), pelaku UMKM kuliner Singkong Keju dan Piscok yang kini menjadi salah satu jajanan favorit anak muda di sekitar kampus UIN Sunan Kudus.
Baca Juga: Tahu Uap Mas Heri, Cemilan Kekinian yang Tak Pernah Sepi di Jepara
Mariono mulanya hanya membantu temannya berjualan. Dari situlah ia mulai belajar banyak hal, mulai dari proses pembuatan hingga racikan bumbu.
“Awalnya ikut teman jualan. Lama-lama saya dikasih ilmu, cara buatnya, resep-resepnya,” katanya saat ditemui beberapa waktu lalu.
Selama sekitar enam bulan, Mariono menimba pengalaman sebelum akhirnya didorong untuk membuka usaha sendiri. Usaha yang dirintis sebelum pandemi Covid-19 itu perlahan berkembang dan kini dikenal luas, terutama di kalangan mahasiswa dan warga sekitar.
Menurut Mariono, kunci menarik perhatian pembeli adalah menghadirkan jajanan yang tidak pasaran. Maka dari itu, ia melakukan inovasi agar memiliki ciri khas.
“Keunikannya jarang yang jual. Biar lain dari yang lain, biar anak-anak zaman sekarang pada cari,” ujarnya.
Harga yang ditawarkan pun sangat terjangkau. Singkong keju dijual Rp1.500 per potong, sementara piscok dibanderol Rp2.000. Khusus bulan Ramadan, Mariono mengaku menambah variasi seperti sempolan dan pisang keju.
Tak hanya berjualan, Mariono juga terbuka membagikan rahasia dapurnya. Untuk singkong keju, ia menggunakan bumbu sederhana berupa garam, ketumbar, dan bawang putih. Prosesnya dilakukan dengan teknik double frying. Teknik ini membuat singkong renyah di luar namun tetap lembut di dalam.
“Digoreng mentah, dimasukkan bumbu, ditiriskan, lalu digoreng lagi,” jelasnya.
Proses awal pengolahan singkong memakan waktu sekitar 30 menit, sementara penggorengan akhir sekitar 10 menit. Untuk piscok, bahan yang digunakan pun sederhana, pisang, meses cokelat, dan kulit lumpia, dengan waktu penggorengan hanya 2 hingga 3 menit.
Mariono membuka lapaknya setiap hari. Jam buka menyesuaikan musim. Saat kemarau, ia mulai berjualan sekitar pukul 13.00 WIB, sementara di musim hujan sejak pukul 10.00 WIB hingga dagangan habis.
Kerja kerasnya membuahkan hasil. Dalam sehari, Mariono mampu meraup omzet sekitar Rp600 ribu. Angka tersebut bisa meningkat saat lapak ramai pembeli.
Baca Juga: Cuma Rp5.000, Es Dawet Martini Jadi Favorit Siswa Miftahul Falah
Ke depan, Mariono menyimpan harapan besar. Ia ingin usahanya terus berkembang dan memiliki beberapa outlet di tempat lain.
“Semoga bisa buka outlet-outlet lain, laris manis,” tambahnya.
Penulis: Melly Andila Putri, Mahasiswa PPL PBSI UMK
Editor: Haikal Rosyada

