BETANEWS.ID, KUDUS – Bupati Kudus Sam’ani Intakoris meninjau pintu pembuangan air di kolam retensi Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kamis (15/1/2025). Peninjauan tersebut dilakukan untuk memastikan sistem pengendalian banjir di wilayah tersebut berjalan optimal.
Dalam peninjauan itu, Bupati Sam’ani memastikan dua pintu kolam retensi, yakni Drain Kencing Satu dan Drain Kencing Dua, dalam kondisi terbuka. Kedua pintu tersebut berfungsi mengalirkan air banjir menuju Sungai Wulan.
Baca Juga: Tampung Air Banjir di Wilayah Kudus, Kolam Retensi Sudah Beroperasi 5 Hari Nonstop
“Kami mengecek langsung kolam retensi. Semua pintu air terbuka dan pompa polder juga menyala seluruhnya,” ujar Sam’ani.
Sam’ani menjelaskan, kolam retensi tersebut dilengkapi lima unit pompa dengan kapasitas total sekitar 5,5 meter kubik per detik. Dengan dukungan dua pintu air yang terbuka, pembuangan air banjir ke Sungai Wulan dapat dilakukan secara maksimal.
“Jika pompa dan pintu air di kolam retensi bekerja optimal, dalam kurun waktu sekitar tujuh jam ketinggian banjir bisa berkurang hingga 30 sentimeter, dengan catatan tidak ada hujan atau air kiriman tambahan,” jelasnya.
Ia menambahkan, Pemerintah Kabupaten Kudus terus melakukan penanganan bencana banjir secara lintas sektoral. Kolaborasi dilakukan bersama pemerintah provinsi, pemerintah pusat, TNI, Polri, serta para relawan.
“Kami bahu-membahu dalam penanganan bencana ini. Semoga tidak ada hujan lagi sehingga banjir bisa segera surut,” ujarnya.
Meski demikian, Sam’ani mengungkapkan bahwa kondisi banjir di Kabupaten Kudus masih meluas. Saat ini, Pemkab Kudus telah menyiapkan tujuh lokasi pengungsian bagi warga terdampak.
“Saat ini sekitar 650 warga terdampak banjir mengungsi. Kami pastikan kebutuhan logistik bagi para pengungsi dalam kondisi aman dan mencukupi,” sebutnya.
Baca Juga: Kudus Masih Dikepung Bencana, Puluhan Ribu Jiwa Terdampak
Sementara itu, Direksi Teknis BBWS Pemali Juana, Nisar Raharjo, menyampaikan bahwa seluruh sarana pengendalian banjir telah dioptimalkan meskipun masih menghadapi kendala di lapangan.
“Kendala utama adalah banyaknya sampah dan eceng gondok yang menghambat aliran air. Namun pengoperasian tetap dilakukan dengan membuka seluruh pintu air dan mengaktifkan lima unit pompa selama kurang lebih tujuh jam, dan hambatan tersebut kami tangani secara bertahap,” jelas Nisar.
Editor: Haikal Rosyada

