BETANEWS.ID, PATI – Ratusan massa Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) kembali turun ke Pengadilan Negeri (PN) Pati untuk mengawal sidang lanjutan Supriyono alias Botok dan Teguh Istiyanto pada Rabu (7/1/2026).
Massa yang membawa sejumlah poster dan mengenakan topeng bergambar Botok dan Teguh memadati halaman PN Pati. Mereka juga membawa keranda yang menjadi simbol matinya keadilan.
Baca Juga: AMPB Kembali Gugat Keadilan, Keranda Putih Iringi Sidang Botok Cs
Perwakilan massa juga melakukan orasi untuk memberikan dukungan moral kepada Botok Cs. Lagu-lagu perjuangan juga dinyanyikan oleh massa.
Bahkan, massa juga menyanyikan lagu sindiran kepada Bupati Pati Sudewo. Lagu yang mereka kasih judul ‘Sepele’ itu, liriknya diambil dari pidato Sudewo saat awal menjabat.
“Di bawah kepemimpinan saya, jangan sekali-kali ada seseorang yang mencoba mengganggu pemerintahan saya. Bilamana ada orang yang mengganggu pemerintahan saya, urusannya lain. Saya memiliki karakter kepemimpinan tersendiri. Tidak bisa disamakan dengan kepemimpinan sebelumnya” begitu lirik yang dinyanyikan massa.
Husaini, Aktivis Pati yang saat itu melakukan orasi juga mengajak para masyarakat bernyanyi dengan kompak. Lalu, merefleksikan keadilan yang telah mati dengan replika keranda mayat.
“Kalau itu (hukuman 9 tahun) benar-benar dipraktikkan, maka pengadilan hukum di Pati sudah mati. Ini teatrikal membawa keranda menyatakan keadilan telah mati,” ucapnya.
Ia membandingkan aksi pemblokiran jalan yang pernah terjadi di Kabupaten Pati. Sejauh ini sudah ada dua kali aksi pemblokiran jalan Pantai Utara (Pantura), yakni pada 2015 dan 2025.
Baca Juga: Gempur Sarang Tikus, Distanbun Jateng Lakukan Pengemposan Lahan Jagung di Wukirsari Pati
Dirinya juga menyinggung berbagai kebijakan mulai dari pembangunan jembatan maupun jalan yang kurang maksimal, program Liga Desa yang berhadiah snack, watak arogansi Bupati Sudewo, tumpulnya hukum yang ditegakkan oleh aparat kepolisian, bahkan isengnya para intel yang mengawasi AMPB selama aksi.
Kemudian, kebijakan pertanian dan pariwisata juga tak liput dari sorotan massa seperti Bupati yang bagi-bagi jeruk pamelo, Kebijakan 10 Ton Bisa, panitia zakat yang tidak transparan, dan tim-tim khusus yang dianggap tidak jelas.
Editor: Haikal Rosyada

