BETANEWS.ID, PATI – Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Provinsi Jawa Tengah melakukan gerakan pengendalian hama tikus di Desa Wukirsari, Kecamatan Tambakromo, Pati. Langkah ini dilakukan melalui metode pengemposan atau pengasapan belerang untuk menekan populasi hama tikus yang merajalela.
Gerakan pengemposan ini menindaklanjuti keluhan petani yang ada di desa bagian selatan Kabupaten Pati tersebut. Sebab, gegara hama tikus yang menyerang tanaman jagung, petani di Desa Wukirsari nyaris 90 persen gagal panen.Kondisi tersebut terjadi sejak setahun terakhir.
Baca Juga: Pembangunan Kopdes Merah Putih di Tambaharjo Pati Ditolak Warga
Dalam pengemposan ini, Distanbun Jateng menerjunkan Tim Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kabupaten, TNI dan Polri serta warga Desa Wukirsari. Mereka tampak bergotong royong melakukan pengemposan atau memasukkan racun asap pada lubang tikus.
Pengemposan ini dilakukan selama tiga hari, yakni mulai 5 hingga 7 Januari 2025. Sedangkan untuk sasarannya berada di beberapa titik lahan jagung di tiga dukuh yang ada di Wukirsari. Yakni, Dukuh Gayam,Gares dan Semak.
Selain pengemposan atau yang dikenal juga dengan fumigasi, petugas juga melakukan pemasangan umpan.
Upaya itu disambut baik oleh Kepala Desa Wukirsari, Sulistiono. Sebab, warga telah banyak resah akibat hama tikus tersebut.
“Serangan hama tikus kali ini lebih berat dari tahun sebelumnya. Alhamdulillah ini dibantu dari pusat, provinsi, dan kabupaten untuk mengendalikan tikus,” ujarnya, Selasa (6/1/2026).
Akibat hama itu, para petani banyak yang merugi lantaran tanaman jagungnya gagal panen. Sekarang warga harus merantau untuk menutupi kebutuhan setelah tak dapat bergantung pada lahan pertanian.
“Padahal mayoritas warga itu petani. Lahan jagung sendiri yang masuk kawasan hutan mencapai 450 hektare sementara di pemajakan (desa) sampai 250 hektare,” sebutnya.
Dampak itu diperkirakan menyebabkan kerugian material yang begitu besar. Sebab, untuk satu hektare lahan jagung, biaya operasional mampu mencapai Rp 10 juta.
“Tinggal dikalikan berapa hektare tersebut,” imbuhnya.
Sulistiono menyebut, ke depan akan mengambil upaya untuk berkelanjutan. Yakni membuat rumah untuk burung hantu sehingga bisa mengatasi persoalan hama tikus tersebut.
Sementara itu, Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan Dinas Pertanian dan Perkebunan (POPT) Distanbun Jateng, Tanto Harto mengatakan, persoalan hama tikus mengalami peningkatan sejak tahun 2025 lalu. Tak hanya di Pati, peningkatan tercatat ada di sejumlah daerah di Jawa Tengah.
“Hama tikus dipicu karena terjadi perubahan ekosistem,” ungkapnya.
Dia menyebut, ada tiga hal yang perlu dilakukan untuk penanganan hama tikus. Seperti perlu penanganan harus dilakukan bersama-sama.
“Kemudian perlu ada kombinasi. Seperti pengemposan, pemasangan umpan, hingga pemanfaatan predator burung hantu. Kemudian penanganan harus dilakukan berkelanjutan tak bisa sekali,” imbuhnya.
Dalam penanganan itu, dia menyebut Dinas Pertanian Kabupaten Pati membantu sebanyak 200 kilogram umpan, sementara Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyiapkan 200 kilogram umpan dan emposan sebanyak 1500 batang.
“Nanti akan tetap dilakukan evaluasi. Kami juga telah menyiapkan bahan pengendali di balai desa,” ungkapnya.
Diberitakan sebelumnya, bahwa serangan hama tikus sebenarnya sudah mulai dirasakan sejak tahun 2023. Namun, intensitasnya tidak sedahsyat tahun 2025 hingga awal tahun ini.
“Tahun 2025 puncaknya. Dari awal bulan pertama hingga sekarang masa tanam, serangannya merata hampir di satu desa,” ucapnya.
Menurut data pemerintah desa, sekitar 90% dari ratusan hektare lahan jagung di Wukirsari, termasuk lahan Perhutani, dipastikan tidak bisa dipanen.
Baca Juga: Potret Kemeriahan Haul Sunan Prawoto, Jadi Magnet Wisata Budaya dan Religi
Kondisi ini membuat desa terasa lebih sepi karena banyak warga yang memilih merantau ke luar daerah seperti Kalimantan dan Sumatera demi mencari nafkah untuk menutupi modal tanam yang dipinjam dari perbankan.
“Kerugian petani rata-rata puluhan juta per hektare. Biaya tanam sendiri bisa mencapai Rp10 juta per hektare hingga masa panen,” kata Kades Wukirsari.
Editor: Haikal Rosyada

