31 C
Kudus
Minggu, Februari 15, 2026

Akhir Tahun, Harga Garam di Pati Melonjak

BETANEWS.ID, PATI – Menjelang akhir tahun, harga garam di Kabupaten Pati mengalami kenaikan signifikan. Memasuki Desember 2025, harga garam di tingkat petambak tercatat mencapai Rp 2.600 per kilogram, naik tajam dibandingkan harga sebelumnya yang masih berada di kisaran Rp 1.200 per kilogram.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Pati, Hadi Santosa mengatakan, lonjakan harga tersebut mulai terasa sejak pertengahan bulan ini.

“Harga garam manis, tidak lagi asin,” ucapnya.

-Advertisement-

Ia menjelaskan, kenaikan harga terjadi seiring dengan menurunnya pasokan garam di pasaran. “Di bulan ini harga garam Rp 2.600 dari mulai pertengahan bulan ini. Saya tahunya dulu masih Rp 1.200-an, akhrinya naik-naik karena kelangkaan. Kemarin, Selasa di angka Rp 2.600 yang masih di petambak,” lanjut Hadi.

Menurut data DKP Kabupaten Pati, produksi garam sepanjang 2025 mengalami penurunan drastis. Hingga akhir November, total produksi baru mencapai 93 ribu ton. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan produksi tahun 2024 yang mencapai 324 ribu ton.

Hadi menyebut, produksi garam pada 2024 merupakan yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Sebelumnya, pada 2023 produksi garam di Kabupaten Pati tercatat sebesar 250 ribu ton, sementara pada 2022 hanya mencapai 55 ribu ton.

“Tahun ini sampai akhir November cuma 93.000 ton, padahal tahun lalu 324.000 ton, karena kini kemarau basah itu yang menjadikan harga lumayan tinggi. Data kita mulai Juni, mulai pengolahannya Juni baru produksi. Dibanding produksi tahun kemarin, kini hanya sepertinganya, kalau tahun kemarin tertinggi,” ucapnya. 

Ia menambahkan, penurunan produksi garam di Kabupaten Pati dipengaruhi oleh kondisi cuaca. Sepanjang 2025, wilayah tersebut dilanda kemarau basah yang kurang ideal untuk proses produksi garam.

Selain cuaca, faktor lain yang memengaruhi produksi adalah keterbatasan lahan. Selama ini, petambak garam di Pati memanfaatkan tambak yang sebelumnya digunakan untuk budidaya ikan.

“Salah satunya selain kemarau basah luasan lahan yang berubah-ubah, mana yang untung garam atau ikan? Kalau ini jadi tambak garam, besok belum tentu,” katanya. 

Di sisi lain, Hadi juga menyoroti kualitas garam produksi petambak lokal yang masih perlu ditingkatkan agar mampu bersaing dengan daerah lain.

“Kualitas kita perlu banyak peningkatan, kita masih kalah sama Madura. Untuk kualitas memang kalah unggul karena bahan bakunya kena sedimentasi,” pungkasnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER