BETANEWS.ID, KUDUS – Di sudut Desa Nganguk Lor, Kecamatan Kota, aroma rempah tercium sejak pagi hingga malam. Dari warung sederhana itu, cita rasa khas Kudus tersaji dalam semangkuk soto kerbau yang gurih dan kaya rempah. Warung Soto Kerbau Pak Achwan bukan sekadar tempat makan, melainkan saksi perjalanan kuliner lintas generasi yang terus bertahan sejak era 1980-an.
Hartati (55), generasi kedua penerus usaha keluarganya. Ia melanjutkan perjuangan orang tuanya yang mulai meracik olahan daging kerbau sekitar tahun 1980. Sejak 1995, Hartati mengambil alih kendali dapur, memastikan setiap sendok kuah dan potongan daging tetap setia pada cita rasa asli yang diwariskan.
Baca Juga: Satu Dapur MBG di Kudus Dilengkapi CCTV dan Tersambung dengan Aplikasi Kudus Sehat
“Kami tetap menjaga cita rasa dan kualitas. Rempahnya asli semua, tidak ada yang instan,” tutur Hartati saat ditemui beberapa waktu lalu.
Bukan perkara mudah mengolah daging kerbau. Teksturnya yang lebih keras dibanding daging sapi membuat proses memasak membutuhkan ketelatenan dan keterampilan khusus.
“Kalau tidak pintar mengolah, seratnya bisa alot. Tapi kalau tahu caranya, hasilnya empuk dan gurih, seperti yang selalu kami sajikan di warung ini,” ungkapnya.
Selain soto, warung ini juga menjajakan berbagai olahan serba kerbau seperti pindang kerbau, sate kerbau, dan empal kerbau. Setiap menu memiliki keistimewaan tersendiri, dengan rasa gurih-manis yang menjadi ciri khas kuliner Kudus.
“Untuk harga masing-masing menu berbeda, soto kerbau dan pindang kerbau Rp20 ribu, sate kerbau Rp40 ribu, dan empal kerbau Rp15 ribu. Untuk yang paling laris tentunya menu soto kerbau,” jelasnya.
Buka setiap hari pukul 09.00 hingga 21.00, warung ini tak pernah sepi pengunjung. Dalam sehari, Hartati bisa menjual sekitar 100 porsi, sementara pada akhir pekan atau hari libur nasional, penjualan bisa melonjak hingga 150–200 porsi.
“Alhamdulillah rezeki terus bertambah. Banyak pelanggan datang dari luar kota, baik mulai Jakarta, Kalimantan, Lampung, dan hampir semua daerah di Jawa. Nama Soto Kerbau Pak Achwan jadi makin dikenal,” terangnya.
Setiap malam antara pukul 7 hingga 8, suasana warung semakin ramai. Pembeli silih berganti, menikmati kelezatan kuah rempah yang menghangatkan tubuh dan membawa nostalgia bagi mereka yang rindu cita rasa khas Kudus.
Baca Juga: Perputaran Tempat Tidur di RSUD Loekmono Hadi Kudus Terganggu Karena Mitos
Di tengah banyaknya kuliner modern yang bermunculan, Hartati tetap teguh menjaga warisan rasa. Ia yakin, kunci keberlangsungan usaha bukan sekadar pada resep, melainkan juga pada kejujuran dalam menjaga kualitas.
“Kalau masak dari hati, hasilnya pasti enak. Orang datang bukan cuma karena lapar, tapi karena rasa yang ngangenin,” ujarnya.
Editor: Haikal Rosyada

