Dibangun Sunan Kudus dan Arya Penangsang, Begini Sejarah Masjid Wali Jepang

BETANEWS.ID, KUDUS – Beberapa orang terlihat tiduran seusai Salat Zuhur di serambi masjid berlantai satu. Masjid berlantai marmer itu tampak serambinya terpampang 24 tiang berbentuk kotak berlapis kayu jati. Atap utama masjid masih berupa tajug tiga tingkat. Sedangkan di depan masjid tampak gapura bata merah berasitektur Hindu – Budha. Masjid tersebut yakni Masjid Wali Jami’ Al-Ma’mur.

Warga terlihat sedang menjalankan ibadah salat di Masjid Wali Jami’ Al-Ma’mur. Foto : Rabu Sipan

Masid Wali Jami’ Al-Ma’mur merupakan satu di antara masjid peninggalan wali di Kudus. Tahun pembuatan masjid seluas 1.290 meter persegi itu tidak ada yang tahu pasti. Nadzir Masjid Wali Jami’ Al-Ma’mur, Muhamad Ridwan (69) hanya tahu abad berdirinya masjid yang berada di Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus.

“Masjid Wali Jami’ Al-Ma’mur berdiri pada abad 16. Hal itu dilihat dari bentuk bangunan dan gapura yang mirip dengan masjid Menara Kudus,” ujar pria yang akrab disapa Mbah Wan kepada betanews.id, Kamis (25/4/2020).

-Advertisement-

Baca juga : Menyusuri Sejarah Berdirinya Masjid Jami’ Nganguk Wali

Mban Wan pun lalu sudi berbagi kisah tentang asal mula berdirinya Masjid Wali Jami’ Al-Ma’mur. Dia mengatakan, pada zaman dulu, saat Sunan Kudus ditemani muridnya Arya Penangsang pulang menyebarkan agama Islam dari daerah Blora, dan Pati, merasa lelah dan kehausan. Sehingga beliau berdua memutuskan singgah di suatu tempat.

“Karena di tempat singgah itu tidak ada air, Kanjeng Sunan Kudus pun memukulkan tongkatnya ke tanah. Ajaib, tanah yang dipukul tongkat itu seketika keluar air, serta jadi sumber mata air hingga sekarang,” terang Mbah Wan sambil duduk bersila.

Setelah muncul mata air, lanjutnya, Sunan Kudus pun kemudian mengajak Arya Penangsang untuk membangun masjid. Agar kelak masjid itu bisa dijadikan tempat penyebaran agama Islam dan salat warga sekitar.

Setelah masjid berdiri lanjutnya, masjid tersebut kemudian diberi nama oleh Arya Penangsang Masjid Jipang, nama tersebut sama dengan desa asal usulnya yang di Blora. Namun, dengan berjalannya waktu, dan faktor lidah orang Jawa,hingga akhirnya Jipang berubah jadi Jepang.

“Nama tersebut juga yang kemudian jadi nama desa sekitar masjid,” tuturnya. Konon ceritanya, masjid yang dibangun Sunan Kudus dan Arya penangsang masih sangat sederhana. Namun depannya sudah ada gapura yang masih dipertahankan hingga sekarang.

Pria yang dikaruniai tiga orang anak itu menambahkan, karena bangunan yang masih sederhana itu kemudian pada tahun 1336 H disempurnakan oleh Sayyid Ali Alaydrus. “Itu prasastinya ada di atas,” kata Mbah Wan.

Baca juga : 6 Bagian Masjid Jami’ Nganguk Wali yang Dipertahankan Hingga Sekarang, Ini Filosofinya

Prasasti itu bertuliskan huruf Arab dan berada di atas kanan pengimaman Masjid Wali Jami’ Al-ma’mur. Masjid berbentuk paseban itu sudah dipugar sebanyak tiga kali. Namun Mbah Wan tidak tahu persis di tahun berapa pemugaran pertama dan kedua dilakukan.

“Yang saya tahu itu pemugaran ke tiga. Karena kebetulan saya Nadzirnya. Pemugaran ke tiga itu pada tanggal 14 Juli 2017 hingga 14 Juli 2019 dan menelan biaya Rp 3 miliar,” ujarnya.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER