Menyusuri Kampung, Menyisir Rezeki: Kisah Tukang Cukur Keliling dari Pati

BETANEWS.ID, PATI — Jarum jam menunjuk angka sebelas saat Supardi tiba dengan mengendarai sepeda motor bututnya di halaman sebuah rumah di perkampungan Desa Wedusan, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati. Pria berusia 53 tahun itu sudah ditunggu oleh pelanggannya yang ingin menggunakan jasanya untuk potong rambut.

Begitu turun dari sepeda motor, Supardi lantas membuka tas gendong yang berisi perkakas cukur. Satu per satu, peralatan seperti gunting, sisir, sikat, dan alat cukur elektrik ia keluarkan dari tas hitam yang warnanya mulai memudar.

Baca Juga: Kisah Karni, Penjahit Rumahan yang Berubah Jadi Juragan Sayur

-Advertisement-

Selang beberapa menit, ia sudah menyiapkan sebuah kursi plastik untuk pelanggannya. Supardi kemudian memasangkan celemek kepada pelanggan tersebut.

Sejurus kemudian, ia mulai memotong rambut menggunakan alat cukur elektrik. Potongan rambut pun disesuaikan dengan permintaan pelanggan. Hanya sekitar 15 menit, ia sudah tuntas menyelesaikan potong rambut pelanggan itu.

“Biasanya memang mampir ke sini karena sudah langganan. Ya, sebulan sekali mampir, karena biasanya memang potong rambut,” ujar Supardi.

Pria yang berdomisili di Desa Puncel, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati itu menceritakan bahwa ia memang keliling kampung setiap hari untuk menawarkan jasa potong rambut. Pekerjaan itu, katanya, sudah ia tekuni sejak Agustus lalu.

Di tengah menjamurnya barbershop modern, ia memilih untuk keliling dari kampung ke kampung menawarkan jasanya. Selain karena keterbatasan modal untuk mendirikan tempat cukur rambut, hal ini dilakukan agar ia bisa menjangkau lebih banyak pelanggan.

Apalagi, menurutnya, sudah banyak tempat atau kios potong rambut yang berdiri, khususnya di sekitar lokasi tempat tinggalnya. Dengan kondisi seperti itu, persaingan menjadi lebih ketat, apalagi ia termasuk baru dalam bidang tersebut.

“Saya memang nggak buka kios karena sudah banyak. Saya pilih keliling saja, biar tidak terlalu bersaing,” ungkapnya.

Supardi mengaku setiap hari keliling ke desa-desa secara bergantian, bahkan sampai ke luar kabupaten yang wilayahnya berbatasan dengan Pati, yaitu Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara.

“Kalau ke utara biasanya sampai Karangsari (Jepara), Puncel, Tambak, dan sekitarnya. Kalau ke selatan, ya sampai Wedusan,” sebutnya.

Dalam sehari, rata-rata ia mendapatkan konsumen sebanyak 10 hingga 12 orang. Sedangkan untuk jasa potong rambut, ia mematok tarif sebesar Rp10.000, baik untuk dewasa maupun anak-anak.

“Kalau ramai, biasanya pas mau Lebaran atau tahun baru. Itu yang ramai,” imbuhnya.

Supardi pun menceritakan bahwa ia dulunya adalah seorang sopir. Namun, karena sempat sakit beberapa tahun dan tidak bisa bekerja berat lagi seperti sedia kala, ia memutar otak agar tetap bisa mencukupi kebutuhan ekonomi.

Akhirnya, setelah sembuh dari sakit, ia mengikuti kursus potong rambut. Begitu dirasa sudah mampu, ia memutuskan untuk keliling menawarkan jasanya.

“Saya ini nggak bisa kerja berat lagi, Mas. Jadi, ya bagaimana agar tetap bisa bekerja untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Ya, akhirnya keliling potong rambut ini,” ceritanya.

Sementara itu, Ali Ahmadi, salah satu pelanggan, mengaku rutin menggunakan jasa potong rambut Supardi.

Baca Juga: Cita-cita Fadloli Bangun Museum Mini yang Simpan Ribuan Koleksi Tentang Kretek

“Iya, sebulan sekali biasanya potong. Biasanya Pak Pardi-nya mampir ke sini. Sudah tahu dia kalau waktunya potong rambut,” ungkap warga Wedusan itu.

Ia pun mengaku senang karena tidak perlu susah payah ke tempat tukang potong rambut. Supardi sudah datang ke rumah, sehingga hemat waktu dan tarifnya pun murah.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER