Linda, Perantau Surabaya yang Sukses Jualan Telur Gulung di Kudus

BETANEWS.ID, KUDUS – Di tepi jalan depan Museum Kretek, Kudus, asap tipis dan aroma dari telur yang sedang digoreng tercium dari sebuah gerobak sederhana. Di balik gerobak sederhana tersebut, terlihat wanita paruh baya yang sedang menggulung adonan telur dengan tusuk sate. Dia adalah Linda, perantau asal Surabaya yang pergi ke Kota Kretek untuk mengais rezeki.

Linda sudah hampir satu dekade menjadi pedagang telur gulung yang berlokasi di depan Museum Kretek. Dengan bermodalkan tekad yang kuat, Linda secara konsisten menjalankan usaha telur gulung yang masih berjalan hingga sekarang.

Baca Juga: Mengenal Mbah Jember, Juru Parkir yang Jadi Tiktokers Informasi Karimunjawa

-Advertisement-

“Saya aslinya dari Surabaya. Saya jualan telur gulung di sini sudah hampir sepuluh tahun,” ujar Linda sembari menuangkan adonan telur ke minyak panas.

Setiap hari, Linda berjualan di lapaknya mulai pukul 05.30 WIB hingga pukul 17.00 WIB. Dengan senyum ramahnya, ia melayani pembeli mulai dari anak sekolah hingga wisatawan yang melintas atau berkunjung ke museum.

“Jualan mulai jam setengah enam pagi sampai lima sore, itu yang beli biasanya anak sekolah sama anak-anak muda yang lewat,” sambungnya.

Harga telur gulung Linda terbilang murah. Cukup dengan Rp1.000, orang-orang sudah dapat merasakan lembut dan nikmatnya telur gulung buatan Linda.

Selain telur gulung, Linda juga menjual minuman. Di antaranya ada kopi, teh, minuman sachet, serta mie instan sebagai pelengkap.

Dari jualan tersebut, omzet yang didapatkan Linda pun terbilang lumayan. Dalam sehari, omzetnya bisa mencapai Rp400 ribu. Sedangkan saat sepi, omzet Linda turun jadi sekitar Rp200 ribu per hari.

“Kalau rame itu kadang bisa dapat Rp300 ribu hingga Rp400 ribu. Tapi kalau sepi ya paling Rp200 ribu. Hasil satu bulan itu rata-rata dapat sekitar Rp4 juta,” ujar Linda saat ditemui beberapa waktu lalu.

Baca Juga: Bosan Jadi Karyawan, Afif Raup Cuan Lebih Besar dari Jual Kue Pancong

Besarnya pendapatan Linda sekarang tidak dapatkannya secara praktis. Ia terus konsisten berjualan telur gulung di tempat yang sama sejak lama.

“Dari awal sudah di sini. Pas awal-awal jualan ya sepi, sehari kadang hanya dapat sekitar Rp100 ribu, kadang malah kurang dari itu,” tambahnya.

Penulis: Faidzoh Iffatul Khoir, Mahasiswa PPL UIN Kudus

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER