BETANEWS.ID, JEPARA – Di Desa Menganti, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara terdapat sebuah kampung yang dijuluki sebagai kampung horog-horog. Julukan tersebut terpampang dalam gapura kecil yang berada di gang RT 11 RW 3, Desa Menganti.
Saat berada di lokasi, julukan kampung horog-horog memang tidak langsung terlihat. Sebab jika dilihat dari luar rumah warga, justru banyak tumpukan kayu mebel.
Baca Juga: Punya Tiga Varian Rasa, Es Dawet Ayu Khas Banjarnegara Laris Manis di Kudus
Namun, saat memasuki gang-gang kecil, mulai terlihat para warga yang sedang memproses tepung aren menjadi horog-horog.
Ketua Paguyuban Horog-Horog Sari Aren Manunggal (Sarma) Menganti, Kodar bercerita proses pembuatan horog-horog membutuhkan waktu yang cukup panjang. Total terdapat 12 tahapan yang harus dilakukan oleh pengrajin untuk mengolah tepung aren menjadi horog-horog.
“Bisa satu hari tapi kalau buru-buru. Yang paling bagus itu dua hari, mulai dari pencucian (tepung horog-horog) baru besok paginya diolah,” katanya saat ditemui di Desa Menganti, Sabtu (19/7/2025).
Untuk proses pencucian sendiri, menurut Kodar membutuhkan waktu sekitar 2-3 jam. Proses tersebut juga harus di ulang sebanyak 3-4 kali. Sebab proses tersebut yang nantinya menentukan kualitas dari horog-horog agar tidak mudah basi.
Setelah dicuci, tepung horog-horog kemudian dikeringkan menggunakan abu dapur. Sebab abu tersebut mampu menyerap air dengan baik dan tidak menimbulkan warna serta bau pada tepung.
Selanjutnya, tepung kemudian disisir dan dikukus setengah matang menggunakan wajan berbahan dasar tanah liat. Tepung yang dikukus setengah matang kemudian ditunggu hingga dingin, untuk selanjutnya direndam menggunakan air garam.
“Perendaman menggunakan air garam ini yang nantinya memberi rasa gurih pada horog-horog,” katanya.
Perendaman tersebut dilakukan hingga adonan mengembang dan bentuknya mengkristal. Jika sudah, adonan tersebut kemudian dihancurkan dan dikukus kembali sampai warnanya berubah menjadi mengkilap.
Satu kukusan adonan dengan berat sekitar 1,5 kg biasanya dijual dengan harga Rp25 ribu. Rata-rata horog-horog dijual ke pedagang bakso maupun pengecer di seluruh pasar tradisional di Kabupaten Jepara.
Baca Juga: Es Gempol Pleret Karyati Jepara, Manis Lembutnya Lumer di Mulut
Kodar menyebutkan terdapat 47 warga Desa Menganti yang menjadi anggota Paguyuban Sarma. Dimana 25 orang diantaranya merupakan pengrajin horog-horog. Sementara sisanya merupakan tengkulak, baik yang menyediakan bahan baku maupun yang menjual horog-horog.
“Horog-horog ini warisan turun temurun, sudah ada sejak jaman mbah-mbah saya dulu,” ujarnya.
Editor: Haikal Rosyada

